
SUARAINDONESIA.ORG – Direktur Utama PT PLN (Persero) Darmawan Prasodjo turun langsung memantau upaya pemulihan pasokan listrik di sistem Sulawesi Bagian Selatan (Sulbagsel). Salah satu fokusnya adalah mempercepat perbaikan PLTU Jeneponto berkapasitas 2 x 100 megawatt (MW) yang mengalami gangguan teknis.
Darmawan melakukan inspeksi sejumlah pembangkit di Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan, Senin (14/9). PLTU Jeneponto yang dikelola pihak swasta mengalami gangguan sehingga mengurangi pasokan listrik ke sistem Sulbagsel.
PLN ikut mendukung percepatan perbaikan agar pembangkit tersebut bisa segera kembali beroperasi.
“Setiap megawatt sangat berarti dalam kondisi seperti ini. Karena itu, kami membantu mempercepat perbaikan PLTU Jeneponto agar dapat segera kembali masuk ke sistem,” kata Darmawan.
Tekanan terhadap sistem Sulbagsel tidak hanya berasal dari gangguan PLTU. Dalam beberapa waktu terakhir, sejumlah pembangkit hidro juga mengalami penurunan daya mampu akibat kondisi hidrologi yang dipengaruhi fenomena El Niño.
Produksi PLTA Poso, Bakaru, Malea, serta sejumlah PLTM ikut terdampak. Daya mampu agregat pembangkit hidro yang sebelumnya sekitar 850 MW turun menjadi hanya 250 MW, atau berkurang sekitar 600 MW.
Kondisi tersebut membuat PLN harus menjalankan sejumlah langkah secara bersamaan. Selain mempercepat perbaikan PLTU Jeneponto, PLN mengoptimalkan pembangkit yang masih tersedia dan menyiapkan tambahan kapasitas hingga 627 MW.
PLN juga berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan Forkopimda untuk menjalankan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC). Langkah ini dilakukan untuk meningkatkan peluang turunnya hujan dan menjaga ketersediaan air bagi pembangkit hidro.
Namun, kondisi atmosfer yang sangat kering membuat ketersediaan awan yang dapat disemai masih terbatas.
Darmawan mengatakan seluruh langkah tersebut terus dikawal dan dievaluasi dari hari ke hari. PLN menargetkan kondisi pasokan dan kebutuhan listrik Sulbagsel dapat berangsur seimbang kembali pada akhir September 2026.
“Seluruh langkah ini kami jalankan secara paralel. Kami menargetkan pada akhir September 2026 pasokan dan kebutuhan listrik Sulbagsel dapat berangsur seimbang kembali,” ujarnya.
Untuk jangka panjang, PLN juga menyiapkan sistem kelistrikan Sulbagsel yang lebih beragam dan resilien. Dalam kerangka program PLTS 100 gigawatt (GW), PLN akan memperkuat sistem Sulbagsel dengan sekitar 5,2 GWp PLTS dan 8,2 GWh BESS.
PLTS diharapkan menambah pasokan dari sumber energi yang tidak bergantung pada kondisi air, sementara BESS berfungsi sebagai penyangga ketika produksi pembangkit hidro menurun.
Dengan kombinasi tersebut, PLN menargetkan sistem kelistrikan Sulbagsel menjadi lebih fleksibel dan mampu menghadapi perubahan kondisi pasokan di masa mendatang.




