BTN Kini Ubah Tumpukan Sampah Jadi Mesin Uang Baru!

BTN Perluas Waste Station ke Banyumas, Dorong Sampah Rumah Tangga Jadi Sumber Penghasilan

Dok BTN

SUARAINDONESIA.ORG –  PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) memperluas inisiatif pengelolaan sampah berbasis ekonomi sirkular melalui peresmian Waste Station di Alun-Alun Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Kamis (5/11). Setelah sebelumnya hadir di Situbondo, Jawa Timur, fasilitas hasil kolaborasi BTN, Pemerintah Kabupaten Banyumas, dan Rekosistem ini memungkinkan masyarakat mengubah sampah anorganik menjadi nilai ekonomi yang dapat dicairkan melalui rekening BTN.

Direktur Commercial Banking BTN Hermita mengatakan, pengembangan Waste Station merupakan bagian dari strategi Beyond Mortgage, yang memperluas peran BTN dari pembiayaan perumahan menjadi pengembangan ekosistem untuk mendukung kualitas kehidupan masyarakat.

“Sekarang BTN itu sudah Beyond Mortgage. Nah, Beyond Mortgage-nya itu kita bukan hanya mengelola rumah, tapi juga semua ekosistemnya,” ujar Hermita dalam acara peresmian Waste Station di Alun-Alun Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Kamis (5/11/2026).

Menurut Hermita, BTN mengembangkan lima ekosistem utama, yakni pemerintah daerah, kesehatan, pendidikan, pariwisata, dan perdagangan. Kelima ekosistem tersebut berkaitan erat dengan kebutuhan hunian sekaligus aktivitas masyarakat yang menghasilkan sampah. Karena itu, pengelolaan sampah menjadi bagian dari upaya BTN membangun ekosistem perumahan yang lebih berkelanjutan.

Berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) tahun 2024, sampah rumah tangga menyumbang sekitar 50,8% dari total timbulan sampah nasional sebesar 33,79 juta ton. Besarnya kontribusi tersebut menunjukkan pentingnya pengelolaan sampah sejak dari lingkungan permukiman.

Hermita menjelaskan, BTN membuka peluang kerja sama dengan pengembang perumahan, perguruan tinggi, dan pemerintah daerah untuk memperluas pengelolaan sampah. Salah satu gagasan yang didorong adalah penyediaan fasilitas pemilahan sampah di setiap kawasan perumahan agar masyarakat terbiasa mengelola sampah sejak dari rumah.

BTN juga mendorong pemberdayaan generasi muda yang memiliki inovasi pengolahan sampah melalui pelatihan dan business matching dengan pelaku usaha, termasuk pengembang perumahan. Ke depan, pengembangan Waste Station diharapkan tidak hanya mencakup sampah anorganik, tetapi juga sampah organik.

“Jangan cuma kita memindahkan sampah, tapi mengelola sampah,” tegas Hermita.

Waste Station Alun-Alun Purwokerto memiliki kapasitas pengumpulan rata-rata sekitar 4 ton sampah per bulan dan beroperasi setiap Selasa hingga Minggu pukul 09.00–18.00 WIB. Masyarakat dapat menyetorkan sampah anorganik seperti botol plastik, kardus, kertas, kaleng, kaca, dan limbah elektronik melalui aplikasi Rekosistem. Sampah yang ditimbang akan dikonversi menjadi poin berdasarkan jenis dan beratnya, kemudian dapat dicairkan menjadi uang melalui rekening BTN.

Pengembangan fasilitas di Banyumas melanjutkan pengalaman Waste Station BTN di Situbondo yang telah mengumpulkan sekitar 6,8 ton sampah anorganik dengan partisipasi 32 pengguna sejak beroperasi.

Deputi Pengelolaan Sampah, Limbah dan B3 Kementerian Lingkungan Hidup, Vinda Damayanti Ansjar, mengatakan kolaborasi pemerintah daerah, dunia usaha, sektor perbankan, dan masyarakat menjadi kunci dalam membangun sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan.

Menurut Vinda, Banyumas telah memiliki berbagai inisiatif pengelolaan sampah, mulai dari TPST, TPST 3R, fasilitas RDF, hingga recycling center. Kehadiran Waste Station diharapkan memperkuat jaringan pengumpulan sampah terpilah yang terhubung dengan pelaku daur ulang dan industri pemanfaatan material.

“Keterlibatan sektor perbankan juga membuka peluang untuk menghubungkan pengelolaan sampah dengan layanan dan insentif keuangan, sehingga masyarakat dapat merasakan secara langsung manfaat dari kebiasaan memilah sampah,” ujar Vinda.

Ia menekankan, keberhasilan Waste Station harus dinilai dari dampak nyata yang dihasilkan, bukan sekadar keberadaan fasilitas.

“Keberhasilan Waste Station tidak cukup diukur dari berdirinya fasilitas atau terlaksananya peresmian pada hari ini. Keberhasilan sesungguhnya akan terlihat dari seberapa banyak masyarakat yang terlibat, seberapa besar sampah yang berhasil dikumpulkan secara terpilah dan didaur ulang, serta seberapa besar manfaat ekonomi dan lingkungan yang dihasilkan secara berkelanjutan,” katanya.

Sementara itu, Bupati Banyumas Sadewo Tri Lastiono mengatakan, pengelolaan sampah menjadi salah satu prioritas pemerintah daerah. Saat ini, timbulan sampah di Banyumas mencapai sekitar 738 ton per hari. Dari jumlah tersebut, sekitar 573 ton atau 77,76% telah terkelola, sedangkan sekitar 164 ton per hari masih membutuhkan penanganan lebih lanjut.

Sadewo menjelaskan, Banyumas terus mendorong pengelolaan sampah dari hulu melalui pemilahan sejak rumah tangga, pemberdayaan kelompok swadaya masyarakat, serta penyediaan fasilitas pengolahan di tingkat desa dan kelurahan.

“Cara pandang kita terhadap sampah juga harus berubah. Sampah tidak boleh lagi hanya dipandang sebagai sesuatu yang harus dikumpulkan, diangkut lalu dibuang,” kata Sadewo.

Ia berharap kehadiran Waste Station semakin mendorong partisipasi masyarakat dalam memilah sampah sekaligus memperoleh manfaat ekonomi dari material yang masih dapat dimanfaatkan kembali.

“Mari kita jadikan pengelolaan sampah sebagai gerakan bersama untuk mewujudkan Banyumas yang bersih, sehat, produktif, dan berkelanjutan,” pungkas Sadewo.

EKONOMIKorporasiBTN Kini Ubah Tumpukan Sampah Jadi Mesin Uang Baru!
- Advertisement -spot_img

TERKINI

- Advertisement -spot_img