
SUARAINDONESIA.ORG – MANGGARAI — Dua-tiga malam terakhir, Daniel tidur di bawah tenda yang didirikan di depan tempat tinggalnya di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur. Gempa yang mengguncang Flores membuat bangunan yang dihuni bersama sejumlah penyandang disabilitas itu mengalami kerusakan. Plafon jebol, sejumlah bagian tembok retak, dan kaca jendela pecah.
Bagi Daniel, seorang guru di salah satu Sekolah Luar Biasa (SLB) di Labuan Bajo, malam-malam di bawah tenda menjadi bagian dari kehidupan yang harus dijalani setelah gempa. Di tengah kondisi tersebut, ia menjadi salah satu warga terdampak yang menerima bantuan pangan dalam penyaluran bantuan yang dilakukan Kepala Badan Pangan Nasional Andi Amran Sulaiman di Manggarai, Nusa Tenggara Timur, Rabu (19/8/2026).
“Selama dua-tiga malam terakhir, kami mengungsi di depan tempat tinggal kami di bawah tenda,” ujar Daniel.
Daniel masih mengingat pagi ketika gempa terjadi. Sekitar pukul 05.58 WITA, ia baru bangun dan bersiap memulai aktivitas. Guncangan yang semula terasa kecil kemudian semakin kuat. Warga panik dan bergegas keluar dari bangunan untuk mencari tempat aman.
Dalam situasi tersebut, Daniel segera menyelamatkan diri. Kondisi pascagempa juga membuat aktivitas sehari-hari belum sepenuhnya kembali normal. Kerusakan bangunan menjadi pengingat bahwa pemulihan membutuhkan waktu dan dukungan.
Bagi Daniel, bantuan pangan yang diterimanya menjadi salah satu dukungan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari di tengah situasi tersebut. Ia berharap bantuan pemerintah dapat diberikan sesuai kebutuhan masyarakat terdampak, termasuk penyandang disabilitas yang menghadapi kondisi dan tantangan tersendiri setelah bencana.
“Harapannya, dukungan yang telah disampaikan kepada kami dapat mengurangi sedikit beban kami, stres kami, daripada bencana yang telah terjadi,” katanya.
Ia juga berharap masyarakat terdampak, terutama penyandang disabilitas, mendapatkan dukungan yang sesuai agar dapat kembali menjalani kehidupan secara layak.
Cerita serupa dirasakan Ahmad, warga Kecamatan Reok, Kabupaten Manggarai. Pagi itu, setelah salat Subuh, Ahmad baru selesai menyiram tanaman di sekitar rumah. Ketika hendak masuk ke rumah, guncangan kuat tiba-tiba terjadi.
Ahmad memilih tetap berada di luar karena khawatir bangunan rumah roboh. Di dalam rumah, cucunya masih berada di dalam hingga anggota keluarga berlari keluar sambil membawa sang cucu.
“Goyang-goyangnya luar biasa. Naik ke atas, ke bawah, ke atas, ke bawah,” tutur Ahmad mengingat kejadian tersebut.
Gempa menyebabkan bagian dapur rumah Ahmad mengalami kerusakan. Rumah sejumlah tetangganya juga terdampak. Di tengah kondisi tersebut, Ahmad berharap bantuan yang diberikan kepada masyarakat terdampak dapat diterima secara merata.
“Harapan kami supaya merata, jadi tidak ada yang merasa kecewa dari pembagian ini,” ujarnya.
Pengalaman Daniel dan Ahmad menggambarkan situasi yang dihadapi masyarakat setelah gempa. Ketika sebagian warga masih berhadapan dengan rumah yang rusak dan aktivitas yang belum sepenuhnya pulih, kebutuhan sehari-hari tetap harus dipenuhi. Pangan menjadi salah satu kebutuhan yang harus terus tersedia selama masyarakat menata kembali kehidupannya.
Skala dukungan pangan pemerintah di Nusa Tenggara Timur juga mencerminkan besarnya kebutuhan masyarakat. Secara keseluruhan, bantuan pangan reguler dan bantuan untuk penanganan bencana alam di Provinsi NTT mencapai 26.440,4 ton dengan nilai Rp370,2 miliar.
Dari jumlah tersebut, bantuan pangan reguler periode Juli–September dialokasikan kepada 861.510 Penerima Bantuan Pangan (PBP) dengan total 25.579 ton senilai Rp358,1 miliar. Sementara itu, bantuan pangan untuk penanganan bencana alam mencapai 861,5 ton dengan nilai Rp12,1 miliar.
Khusus di lima kabupaten terdampak gempa, yakni Kabupaten Manggarai, Manggarai Timur, Ngada, Sikka, dan Nagekeo, total bantuan pangan dan bantuan penanganan bencana mencapai 6.673,2 ton senilai Rp93,5 miliar. Jumlah tersebut terdiri atas bantuan pangan reguler sebanyak 5.811,7 ton senilai Rp81,4 miliar dan bantuan pangan untuk penanganan bencana alam sebanyak 861,5 ton senilai Rp12,1 miliar.
Bantuan tersebut menjadi bagian dari dukungan pemerintah untuk menjaga kebutuhan dasar masyarakat selama masa pemulihan. Penyaluran pangan diharapkan dapat membantu keluarga terdampak memenuhi kebutuhan sehari-hari ketika sebagian sumber daya mereka masih digunakan untuk memperbaiki rumah, memulihkan aktivitas, dan menata kembali kehidupan setelah bencana.
Kepala Badan Pangan Nasional Andi Amran Sulaiman mengatakan, pemerintah bergerak cepat memastikan kebutuhan pangan masyarakat terdampak bencana tetap terpenuhi. Langkah tersebut dilakukan atas arahan Presiden Prabowo Subianto agar masyarakat yang terdampak langsung mendapatkan dukungan di lapangan.
“Yang jelas, tidak boleh ada yang tidak kebagian bantuan atau kelaparan. Itu tidak boleh. Apapun caranya, transportasi darat, laut, udara, kita lakukan semua,” kata Amran.
Amran menegaskan, pemerintah memiliki cadangan beras yang cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat terdampak. Di NTT, stok beras yang tersedia mencapai sekitar 39.000 ton, sementara kebutuhan beras bagi sekitar 34.600 pengungsi diperkirakan sekitar 300 ton per bulan.
“Intinya tidak akan kekurangan beras. Kalau beras, tanggung jawab saya,” ujarnya.
Menurut Amran, penyaluran bantuan pangan untuk masyarakat terdampak tidak perlu menunggu proses administrasi dari pusat apabila kebutuhan di lapangan sudah mendesak. Posko dan tim Badan Pangan Nasional di daerah diminta memastikan distribusi berjalan sesuai kebutuhan.
“Kapan saja butuh, enggak masalah. Jadi jangan menunggu bulan. Tiba-tiba sudah habis. Tim kami 24 jam di posko,” kata Amran.
Hingga saat ini, pemerintah telah mengirimkan sekitar 6.000 ton beras untuk penanganan masyarakat terdampak bencana di NTT. Khusus Kabupaten Manggarai, sebanyak 15 ton beras disalurkan pada Kamis (20/8/2026) untuk memenuhi kebutuhan masyarakat terdampak dan akan terus bertambah sesuai kebutuhan yang ada di lapangan.
Dukungan tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga agar kebutuhan pangan masyarakat tetap terpenuhi ketika kehidupan belum sepenuhnya kembali seperti sebelum gempa. Bagi warga seperti Daniel dan Ahmad, pemulihan berlangsung dari hal-hal yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, memiliki tempat yang aman untuk beristirahat, memperbaiki rumah yang rusak, kembali bekerja, dan memastikan kebutuhan pangan keluarga tetap tersedia.
Dari bawah tenda, Daniel berharap kehidupan dapat segera kembali berjalan. Ia ingin masyarakat terdampak, terutama penyandang disabilitas, memperoleh kesempatan dan dukungan untuk kembali hidup secara layak.
“Semoga teman-teman disabilitas atau teman-teman yang mengalami dampak ini bisa mendapatkan kembali kehidupannya yang layak sebagaimana mestinya,” kata Daniel.




