
SUARAINDONESIA.ORG – Upaya mengejar swasembada susu nasional dinilai tidak cukup hanya dengan menambah populasi sapi. Ketersediaan pakan, pengembangan sapi lokal, lahan hijauan, hingga kepastian harga di tingkat peternak menjadi bagian penting yang perlu diperkuat.
Ketua Komisi IV DPR RI Siti Hediati Hariyadi atau Titiek Soeharto menyampaikan hal tersebut saat memimpin kunjungan kerja ke Koperasi Usaha Tani Ternak (KUTT) Suka Makmur, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, Senin (28/9/2026).
Menurut Titiek, keberadaan KUTT Suka Makmur yang berdiri sejak 1968 menunjukkan potensi pengembangan sapi perah lokal. Koperasi tersebut pernah mendapat sekitar 9.000 sapi impor melalui program Bantuan Presiden (Banpres), yang kemudian disilangkan dengan sapi lokal Jawa dan Madura hingga menghasilkan sapi Grati.
“Jadi sapi itu sampai sekarang, dari 58 tahun yang lalu, turun-temurun, beranak-pinak. Peternaknya juga sampai tiga generasi,” ujar Titiek.
Ia menegaskan penambahan sapi harus dibarengi kesiapan pakan. Tanpa dukungan lahan hijauan yang memadai, populasi sapi justru berpotensi membebani peternak.
“Tidak hanya mendatangkan sapi-sapi impor yang tidak banyak, tetapi juga harus dipikirkan sapi itu makan apa. Makannya harus disediakan, harus ada lahan hijauan,” tegasnya.
Titiek menyebut produksi susu domestik saat ini baru memenuhi sekitar 20 persen kebutuhan nasional. Karena itu, penguatan ekosistem persusuan diperlukan untuk mengurangi ketergantungan impor.
Ia mengatakan impor masih diperlukan selama produksi dalam negeri belum mencukupi, tetapi volumenya perlu dikendalikan agar tidak mengganggu peternak lokal.
Ketua KUTT Suka Makmur Evi Zainal Abidin berharap dukungan pemerintah terhadap koperasi dan peternak terus diperkuat. Ia optimistis kolaborasi pemerintah, peternak, koperasi, dan industri dapat menjadi penggerak menuju swasembada susu nasional




