
SUARAINDONESIA.ORG – Batik tak hanya menjadi warisan budaya, tetapi juga membuka ruang bagi masyarakat untuk tumbuh secara ekonomi. Semangat tersebut terus didorong PT Pertamina (Persero) melalui pembinaan UMKM batik di berbagai daerah, termasuk dengan melibatkan penyandang disabilitas dalam aktivitas usaha.
Memperingati Hari Batik Nasional yang jatuh pada 2 Oktober, Pertamina mencatat sebanyak 428 UMKM batik telah menjadi bagian dari binaannya. Pendampingan dilakukan melalui penguatan kapasitas usaha, pengembangan produk hingga perluasan akses pasar.
Di Bantul, Yogyakarta, misalnya, Roona Batik yang dikelola Muhammad Syauki mampu memproduksi sekitar 5.000 lembar per bulan dengan omzet mencapai Rp100 juta. Dari 18 pekerja, sebagian merupakan penyandang disabilitas.
Hal serupa dilakukan Batik Jinggar di Yogyakarta. Usaha yang dikelola Vitalia Noor Darmaningsih itu mencatat omzet sekitar Rp100 juta per bulan dan mempekerjakan delapan orang, termasuk dua penyandang disabilitas.
Sementara di Riau, Canting Batik Tulis Riau yang dikelola Novita Hermawan membukukan omzet sekitar Rp150 juta per bulan. Dari delapan pekerja, lima di antaranya merupakan penyandang disabilitas.
Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero) Muhammad Baron mengatakan pemberdayaan UMKM tidak sekadar berorientasi pada pertumbuhan bisnis, tetapi juga menciptakan ruang ekonomi yang inklusif.
“Batik merupakan contoh bagaimana pelestarian budaya dapat berjalan bersama pemberdayaan ekonomi masyarakat. Kami ingin semakin banyak masyarakat, termasuk penyandang disabilitas, memiliki kesempatan untuk berkarya, memperoleh penghasilan dan mengembangkan usaha,” ujar Baron.
Melalui pembinaan berkelanjutan, Pertamina mendorong UMKM batik untuk naik kelas, memperluas pasar, sekaligus menjaga warisan budaya Indonesia tetap hidup dan memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat.




