
SUARAINDONESIA.ORG – Minyak jelantah yang selama ini kerap dianggap limbah rumah tangga ternyata memiliki nilai yang jauh lebih besar. Melalui inovasi energi berkelanjutan, minyak bekas menggoreng itu kini dapat diolah menjadi Sustainable Aviation Fuel (SAF) atau bahan bakar penerbangan ramah lingkungan.
Inovasi tersebut diperkenalkan PT Pertamina (Persero) dalam ajang IdeaFest 2026 yang berlangsung di Jakarta Convention Center (JCC), Senayan, Jakarta. Melalui booth interaktifnya, Pertamina mengajak pengunjung melihat secara langsung perjalanan minyak jelantah atau Used Cooking Oil (UCO), mulai dari proses pengumpulan hingga diolah menjadi bahan bakar pesawat.
Corporate Secretary Pertamina, Arya Dwi Paramita, mengatakan pengembangan SAF menjadi salah satu langkah nyata perusahaan dalam mendukung transisi energi sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.
“Minyak itu kita buat untuk bahan bakar pesawat udara. Namun jangan khawatir, ini aman karena risetnya sudah diinisiasi sejak 2015, diteliti secara ketat dan diuji coba dari 2021 hingga 2025,” ujar Arya.
Menurutnya, pengembangan SAF menunjukkan bahwa sumber energi masa depan tidak selalu berasal dari bahan baku baru. Limbah rumah tangga yang selama ini kurang dimanfaatkan pun dapat menjadi bagian dari solusi menuju energi yang lebih bersih dan berkelanjutan.
Pengembangan SAF berbasis minyak jelantah bukan lagi sekadar konsep. Bahan bakar tersebut telah digunakan pada penerbangan Pelita Air Service, anak usaha Pertamina, untuk rute Jakarta–Bali.
Langkah ini menjadi bukti bahwa inovasi energi rendah karbon mulai diterapkan secara nyata dalam sektor transportasi udara yang selama ini dikenal sebagai salah satu penyumbang emisi karbon cukup besar.
SAF Project Commercial PT Pertamina Patra Niaga, Ibrahim Akbar, mengungkapkan bahwa pemanfaatan minyak jelantah menjadi bahan bakar pesawat menjadi salah satu topik yang paling banyak menarik perhatian pengunjung IdeaFest 2026.
“Hari ini saya berkesempatan mempresentasikan program Pertamina yang mengubah minyak jelantah menjadi bahan bakar terbarukan. Saya melihat antusiasme yang sangat besar. Dari semua yang bertanya, semuanya tentang UCO,” katanya.
Ibrahim menjelaskan, pengunjung IdeaFest yang didominasi generasi muda menjadi momentum penting untuk mengenalkan transisi energi dengan pendekatan yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Ia menilai masyarakat tidak hanya berperan sebagai pengguna energi, tetapi juga dapat menjadi bagian dari rantai pasok energi berkelanjutan melalui pengumpulan minyak jelantah.
“Harapannya, lebih banyak lapisan masyarakat mengetahui program ini sehingga sumber bahan baku, dalam hal ini minyak jelantah, bisa kita kumpulkan sebanyak-banyaknya,” ujarnya.




