Sabtu, Februari 7, 2026
spot_img

Kemenperin dan ITB Kolaborasi Perkuat Hilirisasi Industri Nasional

SUARAINDONESIA.ORG – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus memperkuat langkah hilirisasi dan industrialisasi untuk meningkatkan nilai tambah sektor industri prioritas nasional. Komitmen ini diwujudkan melalui penandatanganan Kesepakatan Kerja Sama (KKS) antara Direktorat Jenderal Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil (IKFT) Kemenperin dengan Institut Teknologi Bandung (ITB) di Jakarta, baru-baru ini.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyebut kerja sama tersebut sejalan dengan arah kebijakan Asta Cita Presiden RI, khususnya dalam upaya mempercepat industrialisasi berbasis riset dan teknologi. “Kami berharap kerja sama ini dapat menghasilkan kajian teknologi yang mendukung program industrialisasi bahan galian nonlogam, seperti silika dan grafit,” ujarnya di Jakarta, Senin (28/10).

Penandatanganan kerja sama dilakukan oleh Dirjen IKFT Taufiek Bawazier dan Wakil Rektor Bidang Riset dan Inovasi ITB Prof. Lavi Rizki Zuhal, disaksikan oleh Rektor ITB Prof. Dr. Ir. Tatacipta Dirgantara, M.T.

Taufiek menegaskan, industrialisasi bukan sekadar proses produksi, melainkan transformasi berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi. “Kajian ini akan menjadi dasar penting bagi penyusunan kebijakan yang tepat sasaran, sekaligus memastikan pengembangan teknologi pengolahan mineral sesuai kebutuhan industri nasional,” katanya.

Kemenperin sebelumnya telah menggulirkan dua program prioritas, yakni Industrialisasi Silika menjadi Wafer Silikon untuk mendukung kemandirian industri photovoltaic dan semikonduktor dalam negeri, serta Industrialisasi Grafit untuk memperkuat ekosistem kendaraan listrik nasional.

Pada 2025, Kemenperin dan ITB akan memulai dua kajian utama: teknologi pengolahan silika menjadi metallurgical-grade silicon berbasis sumber daya nasional, serta pemurnian grafit alam dan sintetis berikut analisis keekonomiannya.

Berdasarkan data Kementerian ESDM, Indonesia memiliki potensi besar dengan sumber daya silika mencapai 27 miliar ton dan cadangan sekitar 7 miliar ton, sementara potensi grafit tercatat 31 juta ton. Kedua komoditas ini dinilai strategis untuk mendukung industri masa depan seperti semikonduktor, baterai listrik, hingga komposit.

Rektor ITB, Prof. Tatacipta Dirgantara, menegaskan bahwa kolaborasi ini merupakan wujud nyata kontribusi perguruan tinggi dalam pembangunan nasional. “ITB berkomitmen untuk menjembatani riset akademik dengan kebutuhan industri agar teknologi yang dikembangkan benar-benar berdampak bagi bangsa,” ujarnya.

Taufiek menutup dengan optimisme bahwa sinergi pemerintah dan kampus akan menjadi fondasi kuat menuju kemandirian industri nasional yang berdaya saing dan berkelanjutan.

NEWSNasionalKemenperin dan ITB Kolaborasi Perkuat Hilirisasi Industri Nasional
- Advertisement -spot_img

TERKINI

- Advertisement -spot_img