UT Luncurkan Lentera, Ijazah Bukan Lagi Garis Finis

Dok. Universitas Terbuka

SUARAINDONESIA.ORG – Selama bergenerasi, selembar ijazah adalah garis finis: seseorang belajar, lulus, lalu pulang dengan secarik kertas bersegel sebagai bukti. Tapi pasar kerja kini bergerak seperti ombak yang tak pernah berhenti mengubah bentuk pantai. Garis finis itu, perlahan, mulai terhapus.

Di tengah perubahan itu, Universitas Terbuka (UT) memilih tak hanya menunggu. Jawaban yang ditawarkan Rektor Ali Muktiyanto bukan sekadar kurikulum baru—melainkan membongkar arsitektur pembelajaran hingga ke fondasinya, lalu menyusun ulang dari awal.

“Ke depan, bahan ajar tidak lagi berupa satu modul utuh. Tapi unit-unit modular yang bisa dirakit sesuai kebutuhan,” ujar Ali Muktiyanto kepada Suara Indonesia.

Dari sinilah Lentera lahir, platform berbasis kecerdasan buatan dengan nama panjang Learning Material. Dijadwalkan meluncur tahun ini, Lentera dirancang sebagai super-app yang bisa meracik bahan ajar sesuai profil dan kebutuhan mahasiswa.

“Saya tinggal perintah AI: tolong buatkan bahan ajar untuk mahasiswa yang ingin ahli komputer, pandai berkomunikasi, dan bisa menyusun laporan keuangan sederhana. Keluar mata kuliahnya. Itu moduler,” jelasnya. Logika di balik Lentera adalah efisiensi tanpa kehilangan relevansi. Ali mencontohkan mitra UT di luar negeri yang telah membuktikan bahwa seluruh kurikulum bisa diperas menjadi sekitar 700 modul dasar.

Dengan rata-rata sembilan modul per mata kuliah, angka itu menghasilkan lebih dari 6.000 kombinasi—cukup untuk membangun hampir semua program studi yang dibutuhkan. Tak perlu menulis dari nol setiap kali muncul kebutuhan kompetensi baru. Cukup panggil modul yang relevan, rakit, selesai.

Pendekatan ini juga menjawab kebutuhan industri yang berubah cepat. Ketika perbankan tiba-tiba membutuhkan ahli keamanan siber, atau tenaga kesehatan perlu melek data, UT tak perlu menunggu revisi kurikulum tahunan. Lentera bisa merespons dalam hitungan hari. Paralel dengan Lentera, UT telah lebih dulu membangun ICE Institute (Indonesia Cyber Education Institute).

“Platform ini adalah lokapasar pendidikan daring yang menawarkan program mikro-kredensi, baik dari UT maupun dari perguruan tinggi mitra di luar negeri,” jelasnya.

Di sini konsep stackable credentials bekerja. Seorang profesional yang mengumpulkan beberapa mikro-kredensi dari bidang serumpun bisa mengajukan rekognisi pembelajaran lampau. Jika nilainya setara lima puluh persen bobot suatu program studi, ia tinggal menyelesaikan sisanya untuk meraih gelar sarjana penuh.

“Sayang kalau tidak diselesaikan. Tinggal lima puluh persen lagi—kalau selesai, dapat bonus sarjana,” katanya. Model ini menyasar kelompok yang selama ini sulit mengakses pendidikan formal: pekerja yang tak punya waktu kuliah reguler, buruh migran yang belajar di sela shift, profesional muda yang ingin menambah kompetensi tanpa mengulang dari awal.

Di balik semua itu, Ali menyimpan ambisi yang lebih besar: mengubah cara dunia memandang lulusan UT. Ijazah, baginya, hanyalah sampul—perlu isi yang lebih berat di dalamnya. “Setiap lulusan UT harus keluar bukan hanya dengan gelar, tapi dengan empat sampai delapan sertifikasi profesi yang diakui secara internasional,” tegasnya.

Separuh sertifikasi berasal dari bidang studi utama, sisanya bebas dipilih lintas prodi. Tujuannya, memberi ruang bagi mahasiswa untuk membentuk kombinasi kompetensi yang unik sesuai arah karier masing-masing. Dia mencontohkan, seorang mahasiswa teknik informatika, bisa melengkapi diri dengan sertifikasi komunikasi bisnis atau keselamatan kerja.

Bukan sekadar hiasan CV, melainkan bukti kompetensi yang bisa diverifikasi pemberi kerja di mana pun. “Lulusan UT harus bisa diterima tidak hanya di Indonesia—tapi di mana pun di dunia,” ujarnya.

Tantangan masih ada. Ekosistem mikrokredensi di Indonesia baru tumbuh. Tidak semua pemberi kerja terbiasa membaca portofolio kredensi modular. Dan Lentera, secanggih apa pun, tetap harus memastikan konten yang dihasilkan AI memenuhi standar mutu yang sama dengan bahan ajar konvensional. Ali tak menutup mata dari semua itu. Tapi juga tak berhenti.

“Ini soal bagaimana kita menerjemahkan ke masyarakat. Bahwa UT bukan hanya tempat belajar—tapi tempat membangun kompetensi yang diakui dunia,” pungkasnya. (SI)

NEWSNasionalUT Luncurkan Lentera, Ijazah Bukan Lagi Garis Finis
- Advertisement -spot_img

TERKINI

- Advertisement -spot_img