
SUARAINDONESIA.ORG – Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi mendorong pemerintah daerah Kabupaten Ngada untuk kembali aktif mendampingi Forum Anak di Kabupaten Ngada. Keberadaan forum anak di masyarakat dapat menjadi jembatan komunikasi anak dengan kebijakan pemerintah.
“Kami memotivasi Forum Anak di Kabupaten Ngada untuk mengaktifkan kembali perannya sebagai Pelopor dan Pelapor. Tentu saja pemerintah daerah harus berkomitmen mendampingi Forum Anak dalam setiap kegiatan edukasi dan sosialisasi mereka. Keberadaan Forum Anak di daerah ini adalah penyampai pesan bagi pengambil keputusan untuk memperhatikan kepentingan anak,” tegas Menteri PPPA dalam dialog bersama perwakilan anak dan organisasi perangkat daerah di Kabupaten Ngada (14/2).
Dalam dialog tersebut Menteri PPPA menyinggung hasil Survei Nasional Pengalaman Hidup Anak dan Remaja (SNPHAR) tahun 2024, dimana sebesar 7,28% atau sekitar 1,6 juta anak usia 13 – 17 tahun mengalami masalah kesehatan jiwa dalam 30 hari terakhir. Selain itu, hanya 21,69% anak usia 15 – 17 tahun yang memanfaatkan waktu luang dengan kegiatan positif di luar jam sekolah.
“Perlu ditumbuhkan budaya saling peduli di antara anak dan teman-teman sebaya mereka. Jika melihat teman yang murung, sedih, atau menarik diri, jangan diabaikan. Sapa, dekati, dan dengarkan tanpa menghakimi. Kadang yang dibutuhkan bukan solusi, tetapi kehadiran dan kesediaan untuk mendengar. Pemerintah akan selalu menyediakan ruang aman bagi anak untuk menyampaikan suaranya. Tidak boleh ada satu pun anak yang merasa dirinya tidak berarti, tidak didengar, atau merasa sendirian,” ujar Menteri PPPA.
Kegiatan dialog ini dihadiri perwakilan dari SMAN 1 Bajawa, SMAN 2 Bajawa, SMK PGRI Bajawa, SMAS Regina Pacis Bajawa, dan SMK Sanjaya Bajawa. Ajang ini menjadi sarana beberapa perwakilan anak untuk menyampaikan keluh kesah mereka dan keinginan mendapatkan pengetahuan bagi tumbuh kembang mereka. Perwakilan SMAN 1 Bajawa, Tristan Lionel menyampaikan minimnya edukasi kesehatan reprodukasi dan mental di sekolah, serta ketakutan anak dalam melaporkan perundungan dan kekerasan seksual.
“Kami berharap pemerintah dapat memasukkan edukasi seks dalam kurikulum pendidikan agar anak – anak usia sekolah dapat mengenali batasan diri, memahami risiko kekerasan seksual, serta memiliki keberanian untuk melapor jika mengalami atau menyaksikan tindakan yang tidak pantas,” ungkap Tristan.
Dalam kesempatan yang sama, perwakilan SMAS Regina Pacis Bajawa, Jessica turut menyoroti maraknya judi online di kalangan remaja dan pentingnya dukungan infrastruktur demi keamanan anak untuk ke sekolah, khususnya bagi anak perempuan.
“Kami membutuhkan pengawasan optimal terhadap judi online yang menyasar anak, serta perbaikan jalan dan lampu penerangan agar dapat menuju sekolah dengan aman dan nyaman,” ungkap Jessica.
Bupati Ngada, Raymundus Bena yang turut hadir menyampaikan dukungan terhadap penguatan Forum Anak sebagai wadah partisipasi dan kepedulian sebaya.
“Saya terinspirasi oleh suara anak – anak dan remaja Kabupaten Ngada hari ini. Mereka tidak hanya memahami persoalan di sekitar, tetapi juga menawarkan solusi. Karena itu, Pemerintah Kabupaten Ngada berkomitmen untuk terus melibatkan dan mendengarkan suara anak dalam perencanaan pembangunan daerah,” ungkap Bupati Ngada.




