
SUARAINDONESIA.ORG – Di persimpangan lampu merah, di pelataran parkir mal, hingga di halaman kantor pemerintahan, kehadiran mobil listrik kini semakin mudah ditemui. Suara mesinnya yang nyaris tanpa dengung menjadi penanda zaman baru di jalan raya. Jika dulu kendaraan Listrik hanya muncul di pameran otomotif atau jadi bahan diskusi komunitas teknologi, sekarang ia sudah menjadi bagian dari lalu lintas harian. SPKLU (Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum) pun mulai bermunculan, berdampingan dengan pom bensin konvensional.
Namun di balik desain futuristic dan citra ramah lingkungan, ada satu pertanyaan yang paling sering muncul dari calon pengguna: sebenarnya berapa lama kekuatan baterai mobil listrik bisa bertahan? Apakah sekuat yang dijanjikan brosur? Atau justru cepat menurun setelah beberapa tahun pemakaian? Berbeda dengan mobil berbahan bakar fosil yang bertumpu pada mesin pembakaran dan sistem mekanis kompleks, mobil listrik sangat bergantung pada satu komponen utama: baterai.

Sebagian besar mobil listrik modern menggunakan baterai lithium-ion—teknologi yang juga dipakai pada ponsel dan laptop, tetapi dengan skala dan sistem manajemen yang jauh lebih canggih. Kapasitas baterai mobil listrik umumnya diukur dalam kilowatt-hour (kWh). Semakin besar angkanya, semakin jauh jarak tempuhnya. Saat ini, mobil listrik yang beredar di pasar memiliki kapasitas baterai sekitar 30 kWh hingga lebih dari 100 kWh, dengan klaim jarak tempuh dari 250 km sampai di atas 600 km dalam satu kali pengisian penuh.
Tetapi daya tempuh per sekali cas hanyalah satu sisi cerita. Yang lebih penting bagi banyak orang adalah: berapa tahun baterai itu tetap sehat? Produsen mobil listrik rata-rata memberikan garansi baterai antara 8 hingga 10 tahun atau jarak tempuh 160.000–200.000 km, tergantung merek. Garansi ini biasanya menjamin kapasitas baterai tidak turun di bawah kisaran 70–80 persen selama periode tersebut.
Dalam praktiknya, berbagai studi penggunaan menunjukkan bahwa penurunan kapasitas baterai terjadi secara bertahap. Rata-rata degradasi berada di kisaran 1,5–2,5 persen per tahun. Artinya, setelah 8 tahun pemakaian, baterai masih bisa menyimpan sekitar 80–88 persen dari kapasitas awal masih sangat layak untuk penggunaan harian.
Keunggulan baterai mobil Listrik dibanding banyak komponen mesin konvensional adalah kondisinya bisa dipantau secara digital. Sistem manajemen baterai dapat membaca kesehatan sel, suhu, siklus pengisian, hingga estimasi degradasi. Ini membuat pemilik bisa mengetahui kondisi “jantung” kendaraannya secara lebih presisi tidak sekadar menebak-nebak dari suara atau getaran.
Pada akhirnya, pertanyaan tentang kekuatan baterai mobil listrik mulai bergeser. Bukan lagi “apakah cukup tahan lama?”, melainkan “apakah pola pemakaian kita sudah cukup bijak untuk membuatnya tahan lama?” Seiring semakin banyaknya mobil listrik melintas tanpa suara di jalan raya, jawabannya tampaknya semakin jelas: teknologinya sudah siap, tinggal kebiasaan penggunanya yang menentukan. (dari berbagai sumber)




