PT Berdikari tidak hanya berkontribusi dalam menjaga ketahanan pangan nasional, tetapi juga berperan dalam membangun ekosistem peternakan yang lebih berdaya saing, mandiri, dan tidak lagi bergantung pada impor.

SUARAINDONESIA.ORG,. – PT Berdikari, sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bergerak di sektor peternakan, terus melakukan berbagai inovasi dan strategi guna memperkuat industri peternakan nasional. Dengan fokus pada peternakan ayam, sapi, domba, kambing, kerbau, serta produk olahannya, Berdikari berperan penting dalam menjaga ketahanan pangan nasional dengan memastikan ketersediaan stok dan stabilitas harga.
Lewat wawancara khusus dengan Suara Indonesia, Maryadi, S.E., M.M., Direktur Utama PT Berdikari, menegaskan kalau perusahaan yang dipimpinnya bertransformasi bisnis sejak ditugaskan sebagai BUMN peternakan pada tahun 2011. “Mengapa negara harus turun tangan dalam industri peternakan? Karena kebutuhan daging merah nasional masih bergantung pada impor hingga 35-45%. Sementara itu, produksi ayam surplus 15% dan telur ayam surplus sekitar 5% , tetapi masih didominasi oleh beberapa perusahaan besar. Maka dari itu, Berdikari hadir untuk memastikan kestabilan stok dan harga pangan tersebut” ujar Maryadi.

Sebagai bagian dari Holding BUMN Pangan, PT Berdikari memiliki berbagai strategi untuk meningkatkan kapasitas produksi dan distribusi hasil peternakan. Mereka sudah mengantongi sejumlah jurus jitu yang akan dilakukan dalam upaya meningkatkan ketahanan pangan, di antaranya;
Pertama, pengembangan lahan peternakan sapi. PT Berdikari saat ini mengelola 6.623 hektar lahan di Sidrap, Sulawesi Selatan, yang difokuskan untuk pembibitan dan penggemukan sapi potong. Program ini bertujuan untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor daging sapi, serta menjaga populasi sapi betina sebagai plasma nutfah nasional, sehingga keberlanjutan industri peternakan di Indonesia dapat terus terjaga.
Kedua, kontrol dan intervensi di industri ayam. PT Berdikari mulai masuk ke industri perunggasan pada tahun 2018, yang salah satu tujuannya untuk memastikan ketersediaan stok ayam dalam negeri tetap aman dan terkendali. Hingga saat ini, hampir 57% industri ayam di Indonesia didominasi oleh dua perusahaan besar, dengan total omset yang mencapai Rp600 triliun per tahun. Meskipun produksi ayam nasional sudah surplus, Indonesia masih harus mengimpor Grand Parent Stock (GPS) ayam yang sebagian besar
dari Eropa (Prancis) dan Amerika. Jika terjadi ketegangan diplomatik dengan negara-negara tersebut, pasokan ayam nasional bisa terganggu. Untuk mengurangi ketergantungan tersebut, Berdikari terus berikhtiar mencari alternatif perencanaan strategis ke depan dengan bekerja sama dengan BRIN, Balai Penelitian Ternak Kementerian Pertanian RI dan pihak swasta dalam mengembangkan strain ayam lokal sebagai plasma nutfah nasional yang dapat dikomersialisasikan dan tentunya cleare dan in line dengan Protokol Nagoya serta Undang-Undang No.11 tahun 2013 tentang akses pada sumber daya genetik.
Salah satu misi utama Berdikari adalah menyelamatkan peternak rakyat, yang saat ini hanya berkontribusi 10% terhadap produksi nasional.

Ketiga, stabilisasi harga dan stok daging di pasar. Untuk mewujudkan ini, Berdikari mendapat mandat dari pemerintah untuk mengelola stok daging sapi dan kerbau, terutama menjelang hari hari besar keagamaan, guna menjaga stabilitas harga di pasar.
Di tahun 2025, Berdikari diberikan tugas untuk mengimpor 50.000 ton daging sapi (dari Brazil dan Non Brazil) dan 50.000 ton daging kerbau dari India untuk memenuhi kebutuhan nasional. Selain itu, Berdikari juga mengimpor bahan baku pakan ternak, seperti gandum dari Amerika, Brasil, Australia, Bulgaria, Ukraina, dan Rusia, dengan tujuan menekan biaya produksi pakan dalam negeri, sehingga harga pakan nasional relatif stabil. Hal ini tentunya bisa mensupport dan dirasakan manfaatnya untuk peternak khususnya peternal rakyat.
Untuk memastikan distribusi daging dan unggas berjalan efisien, Berdikari bekerja sama dengan berbagai mitra swasta yang memiliki kapasitas finansial dan jaringan distribusi yang kuat. “Kami tidak ingin ada pihak yang menimbun stok dan memainkan harga di pasar. Oleh karena itu, mitra yang bekerja sama dengan kami harus memiliki kemampuan
pasar yang baik, fasilitas penyimpanan yang memadai, serta jaringan distribusi yang kuat,” jelas Maryadi.
Selain itu, Berdikari juga membangun sinergi dengan perusahaan peternakan besar. Alih-alih bersaing dengan pemain besar, Berdikari memilih untuk bekerja sama dalam penyediaan bahan baku pakan, agar ekosistem industri tetap berjalan harmonis. “Kami ingin bisnis ini tumbuh dengan baik. Perusahaan besar harus dijaga, sementara peternak
rakyat harus dibantu untuk berkembang,” tegasnya.
Salah satu misi utama Berdikari adalah menyelamatkan peternak rakyat, yang saat ini hanya berkontribusi 10% terhadap produksi nasional. “Kami tidak ingin mengambil pangsa pasar perusahaan besar, tetapi fokus kami adalah membantu peternak rakyat yang tidak terafiliasi dengan mereka,” ujar Maryadi. (SI)