Sabtu, Agustus 30, 2025
spot_img

Industri Asuransi Kendaraan Tertekan, AAUI Serukan Sinergi dan Regulasi Adaptif

Ketua Umum Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI), Budi Herawan. Dok.ist

SUARAINDONESIA.ORG – Ketua Umum Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) Budi Herawan mengingatkan regulator dan pelaku industri pembiayaan agar lebih peka terhadap kondisi sulit yang tengah dihadapi industri asuransi umum, khususnya lini usaha asuransi kendaraan bermotor.

Budi menyoroti tambahan beban biaya yang kerap muncul akibat kewajiban pemberian diskon dalam kerja sama dengan perusahaan pembiayaan. Menurutnya, hal ini bisa berdampak besar terhadap ketahanan keuangan perusahaan asuransi.

“Kami berharap jangan sampai ada beban tambahan lagi. Misalnya, ketika perusahaan pembiayaan memberikan promo tambahan seperti belanja gratis Rp1 juta per tahun, total beban industri asuransi bisa mencapai lebih dari 30 persen,” ujar Budi dalam sambutan di acara Non-Bank Financial Forum 2025 yang digelar Infobank Media Group di Grand Ballroom Hotel Indonesia Kempinski, Jakarta, Jumat (1/8/2025).

Tekanan Ekonomi Menurunkan Daya Beli dan Penjualan Kendaraan

Budi menjelaskan, tantangan industri asuransi semakin berat di tengah perlambatan ekonomi nasional. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Maret 2025, garis kemiskinan Indonesia berada di level Rp609.160 per kapita per bulan, atau sekitar Rp20.305 per hari.

Kondisi ini dinilainya berpengaruh langsung terhadap daya beli masyarakat, termasuk pembelian kendaraan bermotor yang menjadi salah satu penggerak utama lini usaha asuransi kendaraan.

“Penjualan kendaraan saat ini turun cukup signifikan. Selama ini perusahaan asuransi umum sudah memberikan insentif tambahan seperti kaca film atau benefit lainnya, yang nilainya mencapai 15–20 persen,” jelas Budi.

Data AAUI menunjukkan, pertumbuhan asuransi umum di sektor kendaraan bermotor hanya 0,3 persen. Budi memperkirakan kinerja pada kuartal II/2025 tidak akan jauh berbeda dibanding tahun lalu. Tantangan serupa, lanjutnya, juga dialami industri pembiayaan dan bahkan sektor perbankan.

“Industri ini saling terkait. Sektor asuransi sangat bergantung pada pembiayaan dan perbankan, terutama dalam distribusi produk asuransi kendaraan bermotor dan bancassurance,” ujarnya.

Sinergi dan Regulasi Adaptif Jadi Kunci

Budi menegaskan, sinergi antar-pelaku industri dan penguatan regulasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) adalah kunci keberlangsungan sektor asuransi. Ia menilai pengawasan dan pengaturan yang adaptif akan menjadi pondasi pertumbuhan yang sehat dan berkelanjutan.

Ia juga menyoroti proyeksi Bank Dunia yang memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini di bawah 4,8 persen, meski pemerintah tetap optimistis dengan target 5 persen.

“Kita harus tetap waspada. Kita hanya bisa tumbuh jika regulasi dan pengawasan adaptif terus diperkuat, dan semua pelaku industri bersinergi menjaga keberlanjutan sektor keuangan,” pungkasnya.

EKONOMIKeuanganIndustri Asuransi Kendaraan Tertekan, AAUI Serukan Sinergi dan Regulasi Adaptif
- Advertisement -spot_img

TERKINI

- Advertisement -spot_img