
SUARAINDONESIA.ORG – Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (APROBI) menggelar Seminar Nasional bertajuk “Peluang dan Tantangan Industri Bioenergi Menyongsong Indonesia Emas 2045” pada Kamis (17/7/2025) di Jakarta. Acara ini menjadi ajang tahunan bertemunya para pelaku industri, akademisi, dan pemangku kebijakan untuk membahas masa depan energi terbarukan Indonesia.
Wakil Ketua Umum APROBI, Catra de Thouars, menyebut forum ini penting untuk memperkuat kolaborasi lintas sektor. “Kami ingin menjadikan seminar ini sebagai ruang bertukar gagasan demi memperkuat sektor energi hijau yang berdampak langsung pada masyarakat,” ujarnya.
Sesi pertama membahas isu “Percepatan Implementasi Sustainable Bioenergi”. Wakil Menteri Luar Negeri Arif Havas Oegroseno menyampaikan bahwa Indonesia harus berhenti bersikap defensif dalam menghadapi tekanan internasional, khususnya dari Uni Eropa. “Kita perlu menciptakan narasi, bukan sekadar merespons tuduhan. Diplomasi kita akan lebih proaktif dengan mengangkat peran petani, terutama perempuan,” tegasnya.
Havas menyoroti strategi diplomasi sawit Indonesia yang kini melibatkan forum global seperti BRICS, CPOPC, hingga FAO. “Indonesia bersama Brasil tengah mendorong standar global minyak nabati sebagai tandingan EUDR yang diskriminatif,” jelasnya.
Sementara itu, Dirjen EBTKE Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi menekankan pentingnya bioenergi sebagai tulang punggung transisi energi, khususnya di sektor transportasi dan industri. “Kita tengah menyusun regulasi baru untuk mendorong pengembangan biodiesel, bioetanol, bioavtur, dan HVO,” ungkapnya.
Eniya mengungkapkan bahwa penerapan B50 akan menjadi tahap penting selanjutnya. Namun kesiapan industri, infrastruktur, dan pasokan CPO harus dihitung matang. “Untuk mendukung B50, kita butuh tambahan lima pabrik biodiesel baru. Tiga di antaranya sudah mulai dibangun,” jelasnya.
Sesi kedua membahas roadmap bioenergi 2025 bersama akademisi dan pelaku industri, mempertegas bahwa masa depan energi Indonesia sangat bergantung pada kolaborasi konkret antara negara, industri, dan riset.




