Kamis, Februari 26, 2026
spot_img

Pemerataan Fasilitas Pendidikan Melalui Revitalisasi dan Digitalisasi SMK di Kawasan Timur Indonesia

SUARAINDONESIA.ORG – Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) terus menegaskan komitmennya dalam menghadirkan Pendidikan Bermutu untuk Semua melalui penguatan akses dan mutu pendidikan yang merata hingga ke seluruh pelosok negeri. Komitmen tersebut diwujudkan melalui program Revitalisasi Satuan Pendidikan dan Digitalisasi Pembelajaran.
 
Program yang dilaksanakan sejak tahun 2025 ini telah diimplementasikan di seluruh negeri, termasuk SMK-SMK di Kawasan Timur Indonesia (KTI). Sebanyak 389 SMK di KTI telah menerima intervensi program revitalisasi secara bertahap, dengan total anggaran lebih dari Rp649 miliar rupiah. Selain program revitalisasi, sebanyak 1.972 SMK juga telah menerima program Digitalisasi Pembelajaran. Wilayah ini meliputi Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua.

Kedua program ini tidak hanya memperbaiki bangunan fisik, tetapi juga memperkuat ekosistem pembelajaran berbasis teknologi dengan menghadirkan ruang belajar yang lebih layak, sekaligus memastikan ruang tersebut terhubung dengan kemajuan digital.
 
Keterbatasan fasilitas pembelajaran, kondisi bangunan yang kurang layak, serta minimnya sarana pendukung proses belajar mengajar menjadi salah satu tantangan serius yang sering dialami oleh SMK di wilayah KTI. Selain itu, kondisi geografis, transportasi local, dan cuaca menjadi tantangan tersendiri. 
 
Melalui program Revitalisasi Satuan Pendidikan, fasilitas yang dibutuhkan SMK, seperti ruang praktik siswa (RPS), ruang kelas, toilet, dan sarana lainnya, diperbaiki dan dibangun ulang agar bisa menghadirkan sekolah yang aman dan nyaman. 
 
Revitalisasi Membangun Harapan Sekolah
 
Kedua program ini telah menunjukkan dampak nyata. Lingkungan belajar yang lebih representatif mendorong tumbuhnya kembali kepercayaan diri para warga sekolah dan masyarakat terhadap pendidikan. Hal ini pula yang disampaikan oleh Kepala SMK Sanjaya Bajawa, Elisabeth Nena. 
 
SMK yang terletak di Ngedukelu, Kec. Bajawa, Kab. Ngada, Nusa Tenggara Timur tersebut menerima rehabilitasi delapan ruang kelas, perbaikan toilet, serta rehabilitasi ruang administrasi dan perpustakaan. Bantuan tersebut menjawab kebutuhan mendesak sekolah swasta yang telah berdiri hampir lima dekade dan menghadapi keterbatasan sarana ini.
 
Elisabeth Nena menjelaskan bahwa sebelum revitalisasi, sekolahnya mengalami kerusakan berat pada sejumlah ruang kelas yang meliputi plafon, atap, dinding, hingga instalasi listrik, sehingga mengganggu kenyamanan belajar, terutama di tengah kondisi cuaca ekstrem. 
 
“Dengan keadaan yang terjadi di sekolah, kami harus berpindah-pindah ruang untuk proses pembelajaran. Tentunya kondisi ini membuat kami, guru dan para murid, kurang nyaman. Akan tetapi, kondisi ini berubah setelah adanya program revitalisasi ini. Ruangan yang sebelumnya tidak layak kini berubah menjadi ruang yang nyaman untuk belajar,” ucap Elisabeth. 
 
Menurut Elisabeth, revitalisasi sangat membantu sekolah di wilayah kepulauan yang memiliki keterbatasan anggaran, fisik, serta tantangan geografis. Perubahan fasilitas juga berdampak pada semangat belajar murid. Elisabeth mengungkapkan bahwa murid juga menjadi peduli terhadap bangunan sekolahnya yang kini menjadi baru.
 
“Sekarang listrik sudah masuk ke ruang kelas dan pembelajaran menggunakan media digital bisa diakses tanpa harus berpindah ruang. Kami berharap program ini terus berlanjut dan tetap memperhatikan kabupaten seperti kami di Ngada, dengan medan berat dan cuaca ekstrem,” pungkasnya.
 
Digitalisasi Pembelajaran, Menjembatani Kesenjangan Akses
 
Pemerintah juga membuka akses belajar melalui program Digitalisasi Pembelajaran. Program ini diwujudkan dengan penyaluran Papan Interaktif Digital (PID) atau Interactive Flat Panel (IFP) ke satuan pendidikan, khususnya SMK. Penggunaan PID di kelas memungkinkan pembelajaran menjadi lebih interaktif dan menghadirkan peluang baru untuk mengakses sumber belajar yang lebih luas.
 
Kepala SMK Gotong Royong Tobelo, Kab. Halmahera Utara, Maluku Utara, Petronela Baranyanan, menyampaikan bahwa adanya penyaluran PID ke sekolah menjadikan atmosfer pembelajaran di SMK Gotong Royong Tobelo lebih hidup. Pada awalnya, kegiatan pembelajaran di dalam kelas lebih terpusat pada guru. Dengan adanya penggunaan PID di SMK, murid menjadi lebih bersemangat dan tertarik untuk mencari tahu serta menjelaskan hasil yang telah mereka dapatkan. 
 
“Proses pembelajaran bisa menjadi lebih kontekstual. Menu yang terdapat di dalam PID memudahkan murid sehingga murid lebih antusias untuk mengikuti pembelajaran terutama ketika diskusi kelompok, karena mereka bisa membuat visual pembelajaran di PID tersebut,” ucap Petronela Baranyanan.
 
Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi, Pendidikan Khusus, dan Pendidikan Layanan Khusus, Kemendikdasmen, Tatang Muttaqin, menyampaikan bahwa program Revitalisasi Satuan Pendidikan dan Digitalisasi Pembelajaran merupakan satu kesatuan untuk mewujudkan pendidikan yang bermutu. Dari barat hingga timur Indonesia, pemerintah berupaya untuk hadir dan memastikan bahwa setiap anak memiliki kesempatan yang sama untuk belajar di tempat yang layak dengan akses teknologi yang lebih luas. 
 
“Program ini adalah strategi besar untuk meningkatkan pemerataan akses dan kualitas, demi menyiapkan generasi kompeten dan berdaya saing. Revitalisasi untuk membangun fondasi dan digitalisasi untuk membangun keterbukaan akses. Program ini bertujuan untuk memastikan bahwa setiap anak di mana pun berada memiliki akses fasilitas belajar yang sama,” ucap Dirjen Tatang.

DAERAHPemerataan Fasilitas Pendidikan Melalui Revitalisasi dan Digitalisasi SMK di Kawasan Timur Indonesia
- Advertisement -spot_img

TERKINI

- Advertisement -spot_img