
SUARAINDONESIA.ORG – Transformasi digital oleh Perumda Pasar Jaya melampaui sekadar metode pembayaran. Mereka kini mengoptimalkan ekosistem menyeluruh, termasuk akses permodalan, pencatatan keuangan pedagang, dan integrasi lokapasar. Upaya strategis ini dilakukan agar pedagang pasar di Jakarta lebih berdaya saing di tengah percepatan ekonomi digital saat ini.
Dengan ekosistem keuangan digital yang komprehensif seperti integrasi data transaksi, pedagang kecil akan lebih mudah mengakses pembiayaan dari lembaga keuangan. Pencatatan usaha digital juga membantu mereka menyusun laporan keuangan sederhana secara mandiri. Selain itu, integrasi dengan platform dagang online memungkinkan pedagang memperluas jangkauan pasar hingga ke luar area fisik kios mereka.
Pada tahap keempat program pengembangan Perumda Pasar Jaya, fokus utamanya adalah memperdalam kualitas adopsi di pasar yang sudah berjalan. Pengelola pasar memprioritaskan keaktifan dan konsistensi transaksi digital para pedagang, alih-alih sekadar mengejar target penambahan kuantitas lokasi pasar baru.
Harapan akhirnya adalah mewujudkan pasar rakyat yang modern, inklusif, dan berdaya saing. Sebab, digitalisasi Perumda Pasar Jaya dirancang tidak untuk menghilangkan kultur sosial di pasar tradisional, melainkan melengkapinya agar tetap relevan dan menjadi tulang punggung ekonomi kerakyatan di wilayah Jakarta.
Program digitalisasi pasar tradisional yang dijalankan oleh Perumda itu memiliki model bisnis yang sepenuhnya berkelanjutan dan mandiri karena berfokus pada pembentukan ekosistem ekonomi yang saling menguntungkan bersama perbankan.
Ke depan, rekam jejak transaksi digital dari penggunaan QRIS dan sistem pembayaran nontunai lainnya akan menjadi aset bernilai yang dapat digunakan pedagang untuk mengakses layanan permodalan dan perbankan di masa depan. Pada akhirnya menciptakan siklus pertumbuhan yang mandiri.
Dari target digitalisasi 110 pasar tahun ini, implementasi yang dilakukan tidak lagi sebatas penerapan sistem, tetapi juga telah mendorong perubahan nyata dalam perilaku transaksi di lapangan. Pedagang dan pembeli kini mulai aktif beralih dari uang tunai ke nontunai, yang dibuktikan dengan lonjakan jumlah pedagang pengguna pembayaran digital hingga mencapai 70%. Pergeseran kebiasaan ini secara langsung ikut mendorong peningkatan frekuensi dan volume transaksi digital secara keseluruhan.
Data konkret mengenai dampak positif digitalisasi ini terus dipantau melalui proses monitoring dan evaluasi berkala. Hasil di lapangan menunjukkan bahwa para pedagang yang aktif menggunakan sistem QRIS merasakan efisiensi usaha yang signifikan, terutama dalam kemudahan pencatatan keuangan. Selain itu, sistem nontunai ini berhasil menekan risiko kerugian akibat selisih uang tunai yang sering terjadi pada transaksi konvensional.
Terkait kekhawatiran soal keamanan, Perumda Pasar Jaya tidak tinggal diam dan terus bergerak bersama pihak perbankan untuk mengedukasi pedagang.

Sosialisasi program digitalisasi digencarkan demi membangun pemahaman bahwa setiap transaksi nontunai memiliki jaminan keamanan resmi dari bank penerbit layanan. Pendekatan ini dilakukan untuk mengikis resistensi dan memberikan rasa nyaman serta aman bagi para pelaku pasar. Dalam pelaksanaannya, membangun literasi digital pedagang terbukti menjadi tantangan yang jauh lebih besar ketimbang urusan kesiapan infrastruktur. Masalah teknis seperti jaringan internet atau perangkat pendukung cenderung lebih mudah diselesaikan secara instan.
Sebaliknya, mengubah kebiasaan dan menumbuhkan kepercayaan pedagang terhadap teknologi memerlukan pendekatan personal yang konsisten dan memakan waktu panjang.
Di sisi lain, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bank Indonesia (BI) memberikan kontribusi yang sangat krusial sebagai pilar utama dalam membangun fondasi keamanan dan kepercayaan pedagang melalui penerbitan regulasi yang ketat, standardisasi sistem pembayaran seperti QRIS, serta pengawasan perlindungan konsumen. (SI)




