
SUARAINDONESIA.ORG – Kondisi industri asuransi kredit Indonesia mengalami berbagai tekanan dan menjadi perhatian besar sepanjang 2025. Portofolio kredit perbankan nasional tetap tumbuh solid. Total kredit disalurkan mencapai nilai Rp 8.448,1 triliun, tumbuh 9,3% hingga 9,7% secara tahunan, terutama ditopang kredit investasi dan segmen korporasi. Namun, di balik angka pertumbuhan itu, tekanan klaim bergerak dengan intensitas yang tidak bisa diabaikan.
Rasio klaim industri asuransi kredit meningkat dari 91,3% pada 2024 menjadi 95,7% pada 2025. Artinya, dari setiap Rp 100 premi yang diterima industri, hampir Rp 96 digunakan untuk membayar klaim. Margin underwriting menjadi sangat tipis, dan ruang untuk tumbuh tanpa disiplin risiko semakin sempit.
“Industri asuransi kredit tidak bisa dibaca secara terpisah dari kesehatan sistem perekonomian dan pembiayaan nasional,” kata M. Fankar Umran, Direktur Utama PT Asuransi Kredit Indonesia (Askrindo), kepada Suara Indonesia.
“Ketika ekonomi stabil, kredit tumbuh, permintaan terhadap proteksi risiko ikut meningkat. Ketika kualitas kredit memburuk, tekanan klaim pun mengikuti,” ujarnya.
Lalu mengapa klaim meningkat saat kredit juga ikut naik? Jawabannya ada di segmen yang selama ini menjadi tulang punggung perekonomian dan pembiayaan nasional yaitu: UMKM.
Secara gamblang, Fankar menjelaskan, kredit UMKM yang sempat mencatat pertumbuhan positif di awal 2025, merosot hingga mencetak pertumbuhan negatif pada Oktober 2025. Beberapa faktor yang menyebabkan hal tersebut, pertama, perlambatan daya beli masyarakat yang belum pulih sepenuhnya pasca pandemi ikut menekan arus kas pelaku UMKM, sehingga kemampuan membayar kewajiban kredit menjadi lebih rentan.
Kedua, perubahan kebijakan Kredit Usaha Rakyat (KUR) turut menciptakan periode penyesuaian. Target KUR 2025 diturunkan menjadi Rp 280 triliun dari Rp 300 triliun pada 2024, disertai perubahan persyaratan dan pergeseran fokus sektor.
Dalam situasi yang sama, perbankan memperketat standar kredit pada segmen UMKM dan konsumsi sejalan dengan meningkatnya sinyal risiko. Dampaknya langsung terasa pada volume kredit baru yang masuk ke ekosistem proteksi asuransi kredit.
Menurutnya, salah satu isu yang juga perlu mendapat perhatian adalah asimetri informasi. Kualitas data debitur yang diterima perusahaan asuransi tidak selalu setara dengan data yang dimiliki bank sebagai kreditur pertama. Celah tersebut dapat melemahkan proses penilaian risiko dan membuat klaim sulit diprediksi sejak awal.
“Jadi, ini bukan karena satu faktor. Ini adalah konvergensi dari beberapa tekanan sekaligus yang menghantam industri asuransi kredit dalam waktu yang bersamaan,” jelas Fankar.
Kinerja PT Askrindo Tahun 2025
Terlepas dari kondisi industri yang menantang tersebut, PT Askrindo terus bergerak menjalankan transformasi di berbagai lini bisnis hingga membuahkan hasil yang melampaui ekspektasi sepan jang 2025. Berdasarkan data unaudited, laba bersih Askrindo tumbuh lebih dari dua kali lipat dibanding tahun sebelumnya.
Ekuitas konsolidasi meningkat menjadi sekitar Rp9,4 triliun, sementara total aset konsolidasi mencapai sekitar Rp32,9 triliun. Hasil ini bukan datang tiba-tiba, melainkan buah dari penguatan manajemen risiko, efisiensi operasional, dan perbaikan kualitas portofolio yang dijalankan secara konsisten.
Capaian ini semakin memantapkan posisi Askrindo sebagai Perusahaan Asuransi Umum terbesar di Indonesia dari sisi Aset dan Ekuitas. Tren positif itu terbawa hingga 2026. Sampai dengan Maret 2026, premi tercatat Rp1,16 triliun, tumbuh sekitar 10% dibanding periode yang sama tahun lalu.
Lini bisnis Asuransi Umum menjadi kontributor utama dengan lonjakan premi 44%, mendorong pertumbuhan laba perusahaan hingga 77% (yoy). Sinyal kuat bahwa momentum bisnis Askrindo tetap terjaga dengan baik.
Bagi M. Fankar Umran, Direktur Utama Askrindo, angka-angka itu bicara lebih dari sekadar laporan keuangan.
“Ini cerminan bahwa transformasi yang kami jalankan mulai memberikan hasil yang nyata,” ujarnya.
Transformasi Askrindo dilakukan melalui pembangunan ketahanan berdasarkan strategi yang bertumpu pada tiga pilar.
Pertama, kami terus mengoptimalkan bisnis penugasan pemerintah yaitu penjaminan KUR tetap menjadi fondasi utama Askrindo.
Kedua, kami memperkuat sisi bisnis BUMN dan Korporasi melalui sentralisasi di dua kantor cabang khusus, agar layanan kepada mitra-mitra strategis bisa lebih fokus, terkonsentrasi, dan optimal.
Ketiga, dan ini yang menurut saya paling menarik, kami serius memperkuat bisnis ritel. Beberapa produk berbasis pelanggan ritel telah dan sedang kami luncurkan: Asuransi Mikro yang hadir dalam beberapa varian seperti Asmik Rumahku, Asmik Usahaku, dan Asmik Bahari; Asur ansi Parametrik untuk segmen pertanian dan risiko bencana; hingga Travel Insurance dan Motor Vehicle.
“Repositioning strategis dari perusahaan yang sebelumnya hampir seluruhnya berorientasi institusional, menuju perusahaan yang menyentuh langsung kehidupan masyarakat luas,” katanya. Formula yang Fankar gunakan untuk merangkum arah ini: “reach wider and serve deeper.”
Jangkauan yang semakin luas tanpa mengorbankan kedalaman layanan dan disiplin risiko.
Selaras dengan tema perayaan HUT ke-55 tahun “Grow Within, Perform Beyond”. Tema ini adalah refleksi dari perjalanan yang sudah dilalui dan arah yang ingin dituju. Grow Within berbicara tentang pertumbuhan dari dalam dengan memperkuat fondasi, membangun kapabilitas, dan bertumbuh bersama ekosistem mitra strategis: UMKM, sinergi BUMN, dan Korporasi.
Ini tentang bagaimana kita menjadi lebih baik secara internal sebelum mengklaim keberhasilan di luar. Sementara Perform Beyond adalah komitmen untuk melampaui ekspektasi, bukan hanya memberikan layanan terbaik, tapi melakukannya dengan sepenuh hati, melampaui target, dan melampaui batas diri. HUT ke-55 ini bukan seremoni tahunan biasa.
Ini adalah momentum apresiasi kepada seluruh insan Askrindo yang telah berjuang bersama, kepada mitra-mitra yang telah mempercayai, dan kepada ekosistem yang telah membentuk PT Askrindo hari ini.
Sekaligus, ini adalah momen untuk mempertegas komitmen bersama terhadap visi perusahaan: menjadi penyedia layanan perlindungan risiko yang mendukung pere konomian nasional dengan kapabilitas global.
Prospek Industri ke Depan
Memasuki 2026, prospek industri asuransi kredit tetap menghadirkan dua wajah: risiko dan peluang. Di sisi risiko, AAUI memperkirakan rasio klaim berpotensi bertahan di level tinggi apabila perbaikan kualitas portofolio kredit perbankan belum terjadi secara merata.
Peringatan ini menegaskan bahwa mengejar volume premi tanpa memperketat selektivitas risiko hanya akan mengulang persoalan yang sama. Namun, ruang pertumbuhan juga terbuka lebar.
Target pertumbuhan kredit perbankan yang ditetapkan Bank Indonesia dan OJK pada kisaran 8% hingga 12% untuk 2026 akan menjadi motor permintaan utama produk asuransi kredit. Pemerintah juga menaikkan plafon KUR menjadi Rp 320 triliun pada 2026.
Semakin banyak kredit yang tersalurkan, semakin besar pula kebutuhan produk asuransi kredit. Fankar melihat tiga tren makro akan membentuk lanskap industri dalam beberapa tahun ke depan.
Pertama, transformasi digital sektor keuangan yang melahirkan model kredit baru berbasis platform dan ekosistem menciptakan kebutuhan akan solusi proteksi yang lebih cepat dan terintegrasi.
“Kredit digital dan pembiayaan berbasis platform fintech tidak hanya memperluas akses pembiayaan, tetapi juga menuntut solusi proteksi yang bergerak dalam kece patan digital,” ujarnya.
Kedua, akselerasi inklusi keuangan membuka segmen-segmen yang sebelumnya belum terlayani, terutama di wilayah non-perkotaan. Dengan kontribusi UMKM yang melebihi 60 persen terhadap PDB nasional dan penyerapan tenaga kerja sekitar 97 persen, potensi pasar yang belum tersentuh di segmen ini sangat besar.
Ketiga, kompleksitas risiko yang terus meningkat dari risiko iklim, risiko geopolitik, hingga risiko siber mendorong kebutuhan akan mitigasi yang lebih canggih dan terstruktur.
“Perubahan iklim bukan lagi sekadar isu lingkungan. Ini sudah menjadi risiko sistemik yang langsung memengaruhi volatilitas klaim,” pungkasnya.
Karena itu, industri asuransi kredit ke depan tidak cukup hanya menjadi penyerap risiko. Perannya harus naik kelas menjadi enabler pertumbuhan ekonomi, yaitu memungkinkan lebih banyak pembiayaan tersalur ke sektor produktif dengan risiko yang dikelola secara lebih terukur.
Rencana Strategis PT Askrindo 2026
Tema besar Askrindo di 2026 adalah “Menuju Bisnis yang Tangguh dan Berkelanjutan dengan Penguatan Tata Kelola dan Transformasi Digital.” Fankar menjabarkannya sebagai agenda yang menyentuh hampir semua dimensi perusahaan sekaligus dari pasar, organisasi, sumber daya manusia, tata kelola, hingga teknologi. Dari sisi pasar, penetrasi pasar perusahaan melakukan berbasis pemetaan potensi wilayah.
Hal ini dibarengi dengan implementasi program High Value Customer (HVC), di mana relasi dibangun lebih dalam dan ekosistem bisnis jangka panjang bersama nasabah-nasabah bernilai tinggi.
Sekaligus, terus memperluas channel pemasaran agar distribusi produk semakin luas dan aksesibel. Dari sisi organisasi, fokus pada dua hal: memastikan alokasi resources benar benar diarahkan ke area yang mendukung profitabilitas, dan menjalankan transformasi budaya secara serius.
Budaya bukan sesuatu yang bisa diubah dalam semalam tapi dengan komitmen yang konsisten, perusahaan mendorong seluruh insan Askrindo untuk bergerak dengan pola pikir yang lebih kolaboratif, proaktif, berani mengambil keputusan, dan berorientasi pada hasil. Untuk SDM, perusahaan berinvestasi serius pada pengembangan kompetensi melalui sertifikasi profesi untuk membangun kapabilitas yang terstandarisasi dan diakui industri.
Dan ini dibarengi dengan penguatan core values sebagai fondasi budaya organisasi, karena strategi sebaik apapun tidak akan berjalan tanpa budaya yang kuat di belakangnya. Dari sisi tata kelola dan investasi, perusahaan terus mengoptimalkan pengelolaan aset strategis dan portofolio investasi agar bekerja lebih produktif.
Terakhir, yang tidak segan disebut sebagai game changer yaitu teknologi. Hal ini harus diimplementasikan secara tepat, menyeluruh, dan terintegrasi yang dampaknya bekerja di tiga dimensi.
Pertama, dimensi pencegahan atau pre-loss: melalui ASKScoring berbasis AI dan big data analytics, Askrindo mampu mengidentifikasi pola risiko dan sinyal awal penurunan kesehatan finansial debitur jauh sebelum gagal bayar terjadi.
Kedua, dimensi pengelolaan klaim atau on-loss: Optical Character Recognition (OCR) dan otomatisasi workflow mempercepat verifikasi, sementara AI Claim Assistant & Fraud Detection membantu mengidentifi kasi klaim tidak wajar.
Ketiga, dimensi pemulihan pasca-klaim atau post-loss: data analytics dan portfolio modelling mengoptimalkan proses recovery dan subrogasi untuk memaksimalkan pemulihan kerugian dan memperkuat ketahanan finansial perusahaan.
Hasilnya sangat konkret, digitalisasi underwriting dan klaim di Askrindo berkontribusi pada penurunan beban underwriting hingga sekitar 33% secara tahunan sepanjang 2025.
“Teknologi bukan lagi alat bantu. Ia sudah menjadi faktor pembeda antara bertahan dan tenggelam,” ujarnya.
Tetapi di atas semua strategi itu, Fankar menempatkan penguatan governance, risiko, dan kepatuhan (GRC) sebagai prioritas yang tidak bisa dikompromikan. Bagi Askrindo, transformasi bukan sekadar agenda perubahan, melainkan cara baru untuk memastikan pertumbuhan berkelanjutan. (SI)




