
SUARAINDONESIA.ORG – Proses pembangunan infrastruktur jalan tol Kuala Tanjung – Tebing Tinggi – Parapat (KUTEPAT) di Sumatra Utara yang memiliki tingkat kesulitan tinggi, sempat menjadi tantangan sendiri bagi PT Hutama Marga Waskita (Hamawas). Tantangan terbesar berada pada segmen menuju Parapat, dengan kondisi topografi berbukit, kontur tanah yang kompleks, serta sensitivitas lingkungan.
Untuk mengatasinya, Hamawas di bawah komando Dindin Solakhuddin sebagai Direktur Utama PT Hamawas, menerapkan pendekatan engineering berbasis teknologi, termasuk pemanfaatan Building Information Modeling (BIM) untuk perencanaan yang lebih presisi, simulasi desain, serta mitigasi risiko sejak dini.
Hamawas memperkuat stabilitas melalui desain geoteknik komprehensif, penguatan lereng, dan sistem drainase adaptif. Seluruh proses juga diawasi dengan quality control dan risk manage ment yang ketat.
“Pendekatan ini untuk memastikan infrastruktur tetap aman, andal, dan berkelanjutan, terutama karena koridor ini menuju kawasan strategis—pariwisata unggulan nasional, Danau Toba,” tutur Dindin kepada Suara Indonesia.
Dalam pengelolaan, Hamawas juga memiliki komitmen besar terhadap aspek Environmental, Social, and Governance (ESG) di setiap proyek pembangunan yang ditangani. Prinsip ESG dijalankan secara menyeluruh, mencakup fase pembangunan, operasional, hingga pengembangan jangka panjang.
Komitmen ESG Hamawas mencakup lingkungan (Environmental), berupa pengelolaan ketat. Anak perusahaan PT Hutama Karya (Persero) ini menerapkan mitigasi dampak lingkungan komprehensif, termasuk pengendalian polusi udara, berupa penghijauan. Melalui program penghijauan, perusahaan menanam pohon di sepanjang koridor KUTEPAT untuk mengimbangi emisi karbon.
Berikutnya merencanakan pemanfaatan energi surya pada fasilitas operasional jalan tol; serta mobilitas berkelanjutan dengan mendukung ekosistem kendaraan listrik dengan menyediakan SPKLU di rest area.
Dari sisi sosial (social), Hamawas mengimplementasikan program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) yang berfokus pada pemberdayaan masyarakat dan kontribusi terhadap pengurangan kemiskinan, termasuk pengembangan UMKM di rest area. Perusahaan juga aktif dalam respons bencana, termasuk dukungan saat kondisi klimatologi ekstrem di Sumatra Utara.
Dari Tata Kelola (Governance), Hamawas memastikan seluruh proses berjalan dengan prinsip transparansi, akuntabilitas, serta manajemen risiko yang kuat. Dengan pendekatan ini, perusahaan memastikan bahwa setiap proyek tidak hanya member ikan nilai ekonomi, tetapi juga mendorong transisi menuju infrastruktur yang lebih hijau, inklusif, dan berkelanjutan.
Keberlanjutan bagi Hamawas berarti memastikan jalan tol tetap andal, aman, dan nyaman digunakan dalam jangka panjang, meskipun volume kendaraan terus bertumbuh.
Perusahaan menerapkan asset management berbasis data, melalui inspeksi rutin, monitoring kondisi perkerasan, jembatan, drainase, serta evaluasi beban lalu lintas secara berkala. Pemeliharaan tidak menunggu kerusakan besar terjadi, tetapi dilakukan secara preventive dan predictive maintenance.
Selain itu, Hamawas menyiapkan program overlay, perbaikan struktur, serta peningkatan kapasitas secara bertahap sesuai pertumbuhan demand.
Guna memastikan setiap proyek selesai dengan standar kualitas tertinggi, sejak awal Dindin menanamkan nilai-nilai atau budaya kerja yang berlandaskan pada tiga pilar utama: integritas, akuntabilitas, dan continuous improvement.
Integritas menjadi fondasi Hamawas dalam mengambil keputusan transparan demi kepentingan jangka panjang, karena dalam industri jalan tol, kualitas adalah kepercayaan publik.
Akuntabilitas diwujudkan melalui disiplin eksekusi, target terukur, dan pemantauan real-time.
Tim kami berkomitmen memberikan hasil terbaik, melampaui sekadar penyelesaian tugas. Melalui budaya continuous improvement, menjadikan pembelajaran proyek sebelumnya sebagai dasar peningkatan proyek berikutnya.
“Didukung digitalisasi, penguatan kompetensi SDM, dan kolaborasi lintas fungsi, kami berkomitmen menghadirkan jalan tol yang aman, nyaman, dan bernilai tambah bagi pengguna,” tegasnya.
Pasca konstruksi dan operasional awal, fokus Hamawas kini beralih ke optimalisasi nilai (value optimization) dengan tiga mile stone utama.
Pertama, peningkatan kinerja operasional berbasis customer experience (CX) difokuskan pada konsistensi standar layanan, meliputi kualitas jalan, kecepatan respons, serta fasilitas pendukung di rest area.
Kedua, penguatan kinerja finansial dan keberlanjutan bisnis. Hamawas mendorong inisiatif peningkatan traffic dan revenue melalui pengembangan non-toll revenue, optimalisasi rest area, serta sinergi dengan kawasan strategis (pelabuhan, industri, dan pariwisata).
Ketiga, penguatan struktur pembiayaan dan bankability proyek. Hamawas menekankan inovasi skema pembiayaan melalui kolaborasi pemerintah dan investor demi keberlanjutan infrastruktur tanpa membebani fiskal.
Dari sisi perencanaan dan pembiayaan, Hamawas secara aktif mendorong kolab orasi dengan berbagai pemangku kepentingan baik pemerintah pusat, daerah, maupun investor untuk memastikan proyek infrastruktur tidak hanya layak secara teknis, tetapi juga memberikan nilai ekonomi jangka panjang yang berke lanjutan.
Dengan pendekatan tersebut, Hamawas memastikan bahwa setiap kilometer jalan tol yang dioperasikan tidak hanya memper cepat mobilitas, tetapi juga membuka akses, menciptakan peluang, dan memperkecil kesenjangan antar wilayah di Sumatra Utara.
“Semua kita lakukan untuk memberikan pelayanan prima ke pengguna jalan,” ujar Dindin optimis.
Bagi Hamawas, pelayanan prima di jalan tol berarti menghadirkan pengalaman berkendara yang aman, nyaman, lancar, dan dapat diprediksi oleh pengguna—mulai dari masuk tol, perjalanan, hingga keluar tol.
Dalam hal ini, Hamawas mengembangkan pendekatan Customer Experience melalui tiga pilar utama: reliability, responsiveness, dan added value experience. Reliability, memastikan kondisi jalan selalu prima, bebas hambatan, dan sesuai dengan Standar Pelayanan Minimum (SPM).
Responsiveness, kecepatan dan ketepatan dalam menangani setiap kejadian di jalan tol, termasuk layanan bantuan darurat.
Added value experience, Hamawas menghadirkan nilai lebih bagi pengguna, seperti pengembangan rest area dengan konsep tematik, integrasi UMKM lokal, hingga penguatan identitas kawasan termasuk menghadirkan nuansa budaya Sumatra Utara sebagai bagian dari expe rience perjalanan. (SI)




