
SUARAINDONESIA.ORG – Di tengah gejolak geopolitik global dan tantangan ketahanan energi nasional, PT Pertamina (Persero) menegaskan komitmennya untuk memperkuat kemandirian energi Indonesia. Strategi itu dipaparkan Direktur Strategi, Portofolio, dan Pengembangan Usaha Pertamina, Emma Sri Martini, dalam sesi Students Meet The Global Executives pada ajang IPA Convex 2026 di ICE BSD, Tangerang, Kamis (21/5).
Di hadapan puluhan mahasiswa, Emma menjelaskan bahwa Indonesia saat ini masih menghadapi tantangan besar sebagai negara net importir energi. Kondisi tersebut menjadi perhatian serius, terutama dalam upaya menjaga ketahanan energi nasional di tengah dinamika global yang terus berubah.
“Ini adalah pekerjaan rumah kita bersama. Ketahanan energi menjadi target penting Indonesia, bahkan dalam 4–5 tahun ke depan sesuai mandat Presiden,” ujar Emma.
Menurut dia, fokus utama Pertamina dalam beberapa tahun mendatang adalah mengoptimalkan sumber daya domestik melalui peningkatan produksi dan lifting migas nasional. Strategi itu dilakukan lewat pemanfaatan teknologi, penguatan kemitraan strategis, hingga mendorong dukungan fiskal pemerintah agar proyek migas semakin menarik bagi investor.
Emma menilai iklim investasi yang kondusif menjadi faktor penting untuk mempercepat eksplorasi dan eksploitasi migas nasional. Dengan adanya insentif fiskal dan skema yang kompetitif, proyek energi dinilai akan lebih layak secara ekonomi dan mampu meningkatkan produksi nasional.
Tak hanya fokus pada energi fosil, Pertamina juga mulai mempercepat pengembangan bisnis rendah karbon. Meski sebagian besar investasi masih diarahkan ke sektor hulu migas demi menjaga produksi nasional, perusahaan mulai mendorong transisi energi melalui berbagai program berkelanjutan.
Di sektor hilir, Pertamina aktif mengurangi ketergantungan impor energi lewat pengembangan biodiesel nasional. Setelah implementasi B40, pemerintah kini tengah mendorong pengembangan menuju B50 sebagai bagian dari strategi memperkuat ketahanan energi.
Selain itu, Pertamina juga melakukan revamping kilang untuk menghasilkan energi yang lebih ramah lingkungan. Salah satunya melalui pengembangan Sustainable Aviation Fuel (SAF) berbasis minyak jelantah atau used cooking oil dengan skema co-processing, serta rencana pembangunan biorefinery baru.
Sementara itu, VP Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron, mengatakan mahasiswa memiliki peran penting dalam menjaga ketahanan energi bangsa. Menurutnya, generasi muda bukan hanya calon pemimpin masa depan, tetapi juga agen perubahan yang mampu mendorong kesadaran masyarakat terkait penggunaan energi secara bijak.
Melalui program seperti Pertamina Goes To Campus, Beasiswa Sobat Bumi, hingga PF Muda, Pertamina terus membuka ruang edukasi dan kolaborasi bagi mahasiswa di berbagai kampus Indonesia. Baron berharap keterlibatan generasi muda dapat melahirkan inovasi sekaligus aksi nyata dalam mendukung ketahanan energi nasional.




