
SUARAINDONESIA.ORG – Anggota Komisi V DPR RI, Sudjatmiko, menegaskan bahwa tragedi ambruknya bangunan Pondok Pesantren Al Khoziny harus dijadikan pelajaran nasional untuk memperbaiki tata kelola pembangunan di Indonesia. Ia menilai, insiden tersebut bukan sekadar kecelakaan teknis, melainkan tragedi kemanusiaan yang menuntut evaluasi menyeluruh.
“Bangunan pendidikan adalah ruang kehidupan. Kalau ia runtuh karena salah perhitungan, itu bukan sekadar kecelakaan teknis, tapi tragedi kemanusiaan,” ujar Sudjatmiko dalam keterangan tertulisnya.
Politisi Fraksi PKB ini menyoroti lemahnya perencanaan dan disiplin teknis dalam pembangunan. Menurutnya, selama keselamatan belum menjadi prioritas, risiko serupa akan terus menghantui. “Pembangunan yang hanya bermodal niat baik tanpa dukungan perencanaan matang adalah resep bencana. Kita harus berhenti menganggap remeh faktor teknis,” tegasnya.
Sudjatmiko menekankan pentingnya menjadikan setiap kegagalan konstruksi sebagai alarm keras. Ia menilai tragedi Al Khoziny mencerminkan adanya persoalan serius dalam sistem regulasi, pengawasan, hingga kesadaran masyarakat. Karena itu, ia mendesak agar evaluasi total dilakukan agar hal serupa tidak terulang.
Ia juga menyerukan agar pemerintah, asosiasi profesi, hingga lembaga pendidikan menjadikan tragedi ini sebagai momentum perubahan. “Jangan biarkan kejadian ini hanya jadi berita sesaat. Dari peristiwa ini harus lahir perubahan nyata,” katanya.
Menurut Sudjatmiko, kualitas bangunan pesantren harus mencerminkan keseriusan bangsa dalam melindungi generasi muda. “Pesantren bukan hanya tempat belajar agama, tapi juga tempat tumbuhnya masa depan bangsa. Keselamatan mereka adalah tanggung jawab kita semua,” tutupnya.




