
Dengan langkah strategis dan inovatif ini, Dharma Jaya menegaskan posisinya sebagai garda depan ketahanan pangan DKI Jakarta—berdiri di antara kebutuhan publik, kepentingan lingkungan, dan dorongan untuk kemandirian pangan jangka panjang.
SUARAINDONESIA.ORG,. – Perumda Dharma Jaya, perusahaan milik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang bergerak di sektor pangan, mencatat sejarah baru di tahun 2025 Untuk pertama kalinya dalam 28 tahun, Dharma Jaya berhasil mendapatkan izin impor sapi hidup langsung dari Australia. Izin ini menjadi tonggak penting dalam misi besar perusahaan untuk memperkuat ketahanan pangan dan stabilitas harga daging di Ibu Kota.
Direktur Utama Dharma Jaya, Raditya Endra Budiman, mengungkapkan kuota impor yang diperoleh tahun ini mencapai 4.000 ekor sapi. “Sampai sekarang sudah masuk 500 ekor, dan akan bertahap kami penuhi hingga akhir Desember. Pada akhir Juni atau awal Juli nanti akan masuk 750 ekor lagi, lalu September sekitar 1.000, dan sisanya menyusul. Ini menjadi pilar penting pengembangan usaha sapi bakalan kami,” ujar Raditya kepada Suara Indonesia.
Raditya menjamin, impor sapi hidup tidak serta-merta mengganggu eksistensi peternak lokal. Menurutnya, pasar antara sapi lokal dan sapi impor memiliki segmentasi yang berbeda. “Kebutuhan daging di Jakarta mayoritas masih dipenuhi dari impor, baik sapi bakalan maupun daging beku. Jadi selama ini tidak saling bertabrakan,” ujarnya.
Ke depan, Dharma Jaya juga merencanakan untuk mengembangkan sapi indukan dari impor agar bisa diternakkan di dalam negeri. “Kita ingin menjalin kemitraan dengan peternak lokal. Nantinya sapi indukan dari Australia juga akan dikembangbiakkan di sini dan didistribusikan ke peternak-peternak binaan,” imbuhnya.

Sesuai regulasi, sapi bakalan yang diimpor tidak langsung dipotong. Mereka harus melalui proses penggemukan selama 3 bulan guna meningkatkan nilai tambah dan menyerap tenaga kerja lokal. Proses penggemukan dilakukan di kandang milik Dharma Jaya di Serang dan Cakung. Mengenai kesehatannya, Dharma Jaya menjamin semua sapi yang masuk telah lolos pemeriksaan ketat. “Kami berkoordinasi rutin dengan DKPKP. Semua sapi
sudah bersertifikat kesehatan dan akan diperiksa ulang saat tiba di kandang,” tegas Raditya.
Dalam menyambut Idul Adha 1446 H, Dharma Jaya telah menyiapkan stok sekitar 1.200 ekor sapi, belum termasuk sapi bakalan. Stok ini diproyeksikan cukup untuk memenuhi lonjakan permintaan masyarakat. “Target kami tentu penjualan tahun ini lebih tinggi dari tahun lalu yang mencapai 1.800 ekor,” kata Raditya.
Dharma Jaya juga menawarkan layanan pemotongan hewan kurban, termasuk layanan siap distribusi dalam bentuk paket daging per kilo. Bahkan, perusahaan menyediakan sistem monitoring visual untuk memberi kepercayaan masyarakat—di mana pemesan dapat melihat proses pemotongan melalui layar TV yang disediakan. “Ini bagian dari transparansi dan akuntabilitas. Masyarakat bisa menyaksikan langsung proses pemotongan yang higienis dan sesuai syariah,” tambahnya.

Sebagai perusahaan milik daerah, Dharma Jaya memegang komitmen untuk tidak mengambil keuntungan besar dalam penjualan daging. “Yang penting bagi kami adalah masyarakat bisa memperoleh daging dengan harga wajar. Kami juga bekerja sama dengan
asosiasi importir dan distributor untuk mendapatkan daging murah,” ujar Raditya.
Dengan kuota impor 4.000 ekor sapi dan rencana kuota daging beku sebanyak 1.500–2.000 ton tahun ini, Dharma Jaya berperan besar dalam menjaga ketersediaan dan stabilitas harga pangan pokok.
Pemprov DKI Jakarta juga menunjukkan dukungan penuh, mulai dari pembelian sapi atas nama Korpri, hingga pengawasan kesehatan secara rutin, tak hanya di Idul Adha.
Tak hanya fokus pada impor, Dharma Jaya juga terus mengembangkan fasilitas pendukung. Pembangunan cold storage berkapasitas 5.000 ton sedang dilakukan sebagai bagian dari ekspansi logistik pangan. Perusahaan menargetkan menjadi pemain utama di rantai pasok pangan berpendingin, tak hanya menyimpan tapi juga mengangkut dan mendistribusikan produk hewani.
Dalam pengelolaan limbah, Dharma Jaya tengah menjajaki konversi limbah ternak (seperti menur) menjadi biogas. “Kami ingin menerapkan green technology agar aktivitas kami tidak hanya memenuhi kebutuhan pangan, tetapi juga ramah lingkungan,” ucap Raditya. (Jay)




