
Perumda Dharma Jaya terus membuktikan diri lebih dari sekadar perusahaan daerah. Perannya sangat strategis, sebagai tulang punggung ketahanan pangan Jakarta dan siap menghadapi masa depan yang lebih hijau, lebih kuat, dan lebih inklusif.
SUARAINDONESIA.ORG,. – Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menaruh kepercayaan besar kepada Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Dharma Jaya. Tingginya Kepercayaan itu tergambar ketika mantan Politikus DPR RI itu mengunjungi langsung fasilitas Dharma Jaya menjelang Hari Raya Idul Adha 1446 H. Gubernur menginspeksi langsung kesiapan fasilitas Dharma Jaya yang terdiri dari feedlot, cold storage, dan Rumah Potong Hewan (RPH).
Masyarakat kita mulai sadar pentingnya hidup sehat. Konsumsi protein naik, walau masih rendah secara nasional. Kami ingin menjadi bagian dari solusi: cegah stunting, ciptakan
generasi sehat dan cerdas.
Tiga fasilitas tersebut menjadi nadi utama pemrosesan dan distribusi daging di Jakarta. Sementara itu, kandang penggemukan di Serang seluas 12 hektare juga disiapkan sebagai penyangga pasokan. Upaya ini menjadi salah satu concern penting Gubernur DKI Jakarta terutama untuk terus menjaga dan mengawal ketersediaan protein hewani sebagai bagian krusial dari sistem ketahanan pangan ibu kota.
“Pesan dari Pak Gubernur sederhana tapi mendalam, jaga ketahanan pangan, terutama protein hewani seperti daging dan ayam. Dharma Jaya harus memastikan rantai pasok tetap aman dan terjaga,” ujar Direktur Utama Dharma Jaya, Raditya Endra Budiman kepada Suara Indonesia.
Diakuinya, tahun ini menjadi tonggak sejarah bagi Dharma Jaya, karena untuk pertama kalinya dalam 28 tahun, perusahaan milik Pemprov DKI ini berhasil mendapatkan izin impor sapi hidup. “Ini prestasi besar. Setelah 28 tahun, akhirnya kami bisa impor langsung. Ini akan membuka akses pasokan yang lebih efisien dan kompetitif,” kata Raditya. Dengan izin ini, Dharma Jaya dapat lebih mandiri dalam memenuhi kebutuhan daging, khususnya saat permintaan melonjak, seperti menjelang hari besar keagamaan.
Di sisi lain, Dharma Jaya juga membuktikan eksistensinya di sektor ritel modern. Saat ini, perusahaan telah menjalin kerja sama dengan sejumlah jaringan retail seperti Hero, Transmart, Tiptop, dan mitra diskon lainnya. Produk Dharma Jaya kini tersedia di berbagai wilayah, termasuk luar Jakarta seperti Yogyakarta. “Kami sesuaikan produk dengan segmen masingmasing retail. Di Hero berbeda dengan mitra diskon. Kami analisis kebutuhan pasar, lalu sesuaikan jenis produk dan harga,” jelas Raditya. Kepercayaan retail modern terhadap Dharma Jaya menjadi indikator bahwa kualitas dan layanan mereka sudah bersaing di pasar komersial.
Raditya juga menekankan pentingnya konsumsi protein dalam misi sosial Dharma Jaya. “Masyarakat kita mulai sadar pentingnya hidup sehat. Konsumsi protein naik, walau masih rendah secara nasional. Kami ingin menjadi bagian dari solusi: cegah stunting, ciptakan generasi sehat dan cerdas,” ucapnya.
Peningkatan kualitas sumber daya manusia menjadi perhatian utama Dharma Jaya. “Mempertahankan prestasi itu lebih sulit daripada mencapainya. Maka dari itu, kami konsisten lakukan pelatihan, training, dan rekrutmen berbasis kompetensi. Prinsip ‘the right man in the right place’ benar-benar kami terapkan,” ujar Raditya.
Langkah ini diyakini dapat memperkuat daya saing perusahaan, terutama dalam menghadapi persaingan di sektor pangan yang makin kompleks dan kompetitif.

Tak hanya fokus pada bisnis, Dharma Jaya juga menyiapkan masa depan yang lebih hijau. Pembangunan cold storage berkapasitas 5.000 ton yang sedang berlangsung akan menggunakan teknologi ramah lingkungan. Pengolahan limbah, termasuk kotoran hewan, akan diarahkan untuk menghasilkan biogas.
“Kami sedang menjajaki pemanfaatan menur sebagai bahan baku biogas. Ini bagian dari komitmen kami terhadap pengurangan emisi dan mendukung target pangan rendah karbon pada 2025,” papar Raditya.
Tak berhenti di distribusi, Dharma Jaya kini menargetkan menjadi pemain logistik pangan terdepan di Jakarta. “Kami ingin bukan hanya punya cold storage, tapi juga jadi pengangkut, penyimpan, dan pengelola rantai dingin pangan Jakarta,” katanya.

Dharma Jaya membuka peluang kerja sama dengan sektor swasta untuk membangun ekosistem logistik yang efisien, modern, dan mendukung distribusi pangan yang terjangkau. Di Jakarta, Dharma Jaya membentuk sinergi strategis dengan dua BUMD lainnya, yakni Food Station dan Pasar Jaya. Mereka dikenal dengan istilah “Three Musketeer”. Food Station mengelola protein nabati, Dharma Jaya bertanggung jawab pada protein hewani, dan Pasar Jaya sebagai jalur distribusi. “Kami saling terhubung. Pasar Jaya menyediakan titik distribusi, sementara Dharma Jaya dan Food Station menjaga ketersediaan dan harga. Ini bentuk sinergi BUMD yang konkret untuk masyarakat,” ujar Raditya.
Ke depan, Dharma Jaya berharap mendapat ruang lebih besar untuk bekerja sama dengan BUMN dalam hal pengadaan dan impor pangan. “BUMD adalah yang paling dekat dengan pasar rakyat. Kami tahu kebutuhan lapangan. Semoga, pemerintah pusat bisa memberikan sebagian porsi impor ke BUMD seperti kami,” harap Raditya. (Jay)




