Langkah konsisten dan inovatif inilah yang menjadi modal strategis Asrinda Re-Broker untuk tidak hanya bertahan di tengah gelombang perubahan, tetapi juga terus mengukir prestasi di industri yang semakin kompetitif.

SUARAINDONESIA.ORG,. – Di tengah dinamika dan tantangan besar industri asuransi nasional, PT Asrinda Arthasangga atau yang lebih dikenal dengan Asrinda Re-Broker, terus menunjukkan eksistensinya sebagai salah satu pemain kuat dalam bisnis perantara reasuransi di Indonesia.
Direktur Utama Asrinda Re-Broker, Eko Supriyanto Hadi, mengungkapkan strategi dan target perusahaan dalam menghadapi tantangan serta mengejar pertumbuhan berkelanjutan di tahun 2025.
Menurut Eko, industri broker reasuransi saat ini tidak bisa dilepaskan dari kondisi industri asuransi dan reasuransi secara keseluruhan. Dua tantangan utama yang kini dihadapi adalah penerapan standar akuntansi internasional IFRS 17 (yang diadopsi di Indonesia menjadi PSAK 117), serta kebijakan regulator terkait peningkatan modal minimum perusahaan asuransi dan reasuransi oleh OJK.
IFRS 17 telah mengubah metode pencatatan pendapatan perusahaan secara drastis, berdampak pada berkurangnya laba di tahun berjalan karena pendapatan kini harus diakui secara bertahap sesuai masa kontrak. Sementara itu, regulasi OJK menuntut perusahaan asuransi memiliki modal minimum Rp1 triliun dan reasuransi Rp2 triliun pada 2028. Realitasnya, hanya segelintir perusahaan yang mampu memenuhi syarat tersebut, yang diprediksi akan menyebabkan konsolidasi besarbesaran di industri, dari 78 perusahaan
saat ini menjadi sekitar 30 saja.
“Efeknya sangat kompleks. Secara bisnis, Asrinda pasti terdampak, tapi tidak besar. Karena kita memiliki captive dari BUMN yang cukup stabil, dan kita juga memperkuat sektor non-captive. Insya Allah, kami tetap bisa survive dan bahkan terus tumbuh,” ujar Eko optimis.
Target pertumbuhan pendapatan di tahun 2025 ditetapkan sebesar 15%, baik dari sisi procret fee maupun laba bersih. Strateginya adalah dengan terus memperluas portofolio klien, khususnya dari sektor non-captive, tanpa mengurangi peran klien BUMN yang sudah ada. Saat ini, porsi klien non-captive telah mencapai 60-70%, menandakan ketergantungan terhadap captive client semakin berkurang.
Keunggulan Asrinda juga ditopang oleh SDM bersertifikasi tinggi, sistem teknologi digital berbasis web, serta komitmen kepatuhan SOP dalam transaksi premi dan klaim yang hanya memerlukan waktu maksimal tiga hari kerja. Tak heran jika Asrinda kini masuk lima besar
broker nasional dari sisi pendapatan, dan bahkan menyentuh tiga besar dari sisi laba menurut laporan industri.
“Dengan sinergi pemegang saham, manajemen, dan komisaris, serta strategi yang adaptif, kami percaya Asrinda akan terus melaju pada jalur pertumbuhan berkelanjutan (sustainable growth) dan menjadi mitra terpercaya perusahaan asuransi nasional,” tutup Eko. (SI)