
Konsistensi, efisiensi, serta keberanian melakukan inovasi menjadi modal utama PTKS untuk terus melaju dalam persaingan global yang semakin ketat.
SUARAINDONESIA.ORG,. – Dalam menghadapi tantangan industri baja yang semakin kompetitif di kancah global, PT Krakatau Steel (Persero) Tbk tak tinggal diam. Di bawah kepemimpinan Direktur Utama Akbar Djohan, perusahaan pelat merah ini meluncurkan strategi menyeluruh yang menitikberatkan pada tiga aspek utama: optimalisasi kapasitas
produksi, konsolidasi bisnis infrastruktur, dan hilirisasi produk baja. Langkah ini digadang-gadang menjadi senjata utama Krakatau Steel dalam meningkatkan daya saing nasional dan internasional.
Sebagai tulang punggung sektor industri nasional, PT Krakatau Steel memiliki fasilitas produksi baja terintegrasi yang mampu menyuplai kebutuhan di berbagai sektor, mulai dari konstruksi, infrastruktur, hingga otomotif dan pertahanan. Akbar Djohan menegaskan bahwa efisiensi dan produktivitas menjadi fokus utama.
“PTKS menargetkan utilisasi produksi yang tinggi agar bisa menekan biaya produksi secara signifikan,” ujarnya melalui keterangan tertulis kepada Suara Indonesia. Untuk mencapai itu, PTKS memperkuat rantai pasok dengan menjalin Long Term Supply Agreement bersama penyedia bahan baku dan konsumen utama. Strategi ini bertujuan menjamin ketersediaan bahan baku sekaligus kepastian penyerapan produk, menciptakan ekosistem bisnis baja yang berkelanjutan.
Langkah cerdas lainnya yang juga menjadi andalan PTKS yakni, konsolidasi bisnis infrastruktur melalui pembentukan subholding PT Krakatau Sarana Infrastruktur. Dengan pengalaman lebih dari 40 tahun dalam pengelolaan kawasan industri, PTKS mengintegrasikan fasilitas seperti pelabuhan, pembangkit listrik, pengolahan air, rumah sakit, hingga properti ke dalam satu kendali manajemen. “Tujuannya adalah menciptakan sinergi maksimal antar anak perusahaan, sekaligus mempercepat pengembangan kawasan industri baru yang berdaya saing tinggi,” jelas Akbar.
Melalui subholding ini, PTKS tak hanya memfasilitasi kegiatan industrinya sendiri, tapi juga membuka peluang bagi pelaku industri lain untuk berinvestasi di kawasan strategis tersebut.
Di sisi lain, guna menggarap potensi nilai tambah dari produk baja, PTKS juga mendorong program hilirisasi yang kini dijalankan oleh subholding PT Krakatau Baja Konstruksi. Hilirisasi ini mencakup produksi jembatan baja, menara komunikasi dan transmisi, serta rumah modular.
Menurut Akbar, pendekatan ini tak hanya menciptakan nilai tambah, tapi juga menjadikan PTKS sebagai “one stop service” mulai dari desain, fabrikasi, hingga konstruksi.“Kami ingin produk baja tidak lagi sekadar bahan baku, tapi menjadi solusi terintegrasi untuk kebutuhan konstruksi dan infrastruktur nasional,” tegasnya.
Selain langkah-langkah internal, PTKS aktif mendorong kebijakan pemerintah yang berpihak pada industri dalam negeri. Salah satu yang paling krusial adalah implementasi Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) sekitar USD 6/mmbtu. Ini memberikan nafas baru bagi industri baja nasional untuk bersaing dengan produk impor.
PTKS juga turut mendorong peningkatan Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) serta memperkuat penerapan trade remedies seperti Bea Masuk Anti Dumping (BMAD) dan Safeguard. Meski telah ada beberapa regulasi, Akbar menilai, Indonesia masih perlu memperluas cakupan trade remedies.“Volume impor baja masih lebih dari 40% dari
total kebutuhan nasional, sementara utilisasi fasilitas nasional masih di bawah 60%. Bandingkan dengan Thailand dan AS yang masing-masing sudah menerapkan lebih dari 60 dan bahkan 300 BMAD. Kita perlu akselerasi,” papar Akbar.

Di tengah tekanan pasar domestik, PTKS juga memperluas pasar ekspornya. Perusahaan menjalin kerjasama dengan berbagai entitas luar negeri dalam skema yang inovatif: mereka menyediakan bahan baku, PTKS memprosesnya, dan hasil produksinya diekspor kembali.
Model bisnis ini berhasil membawa produk Krakatau Steel ke pasar internasional seperti Italia, Vietnam, dan Malaysia. Strategi ini bukan hanya memperluas pangsa pasar, tapi juga
menunjukkan bahwa PTKS mampu beradaptasi dan bersaing di tingkat global.
Dengan strategi yang komprehensif dan progresif ini, PT Krakatau Steel menunjukkan bahwa industri baja Indonesia tidak lagi hanya bergantung pada pasar domestik, tapi siap bersaing secara global. Langkah-langkah transformasi yang dilakukan membuktikan bahwa
BUMN ini tak lagi sekadar berperan sebagai produsen, melainkan sebagai pemain strategis dalam pembangunan nasional dan pertumbuhan ekonomi. (SI)