
SUARAINDONESIA.ORG – Kementerian Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat (Kemenko PM) telah melakukan kick-off program Pasar 1001 Malam, sebuah inisiatif pemberdayaan ekonomi rakyat yang membuka ruang lebih luas bagi pelaku UMKM, koperasi, dan masyarakat untuk berkembang melalui kolaborasi lintas pihak, di Banda Aceh pada 11 Maret 2026.
Banda Aceh dipilih sebagai lokasi peluncuran karena dikenal sebagai Kota Kolaborasi, yang merepresentasikan semangat kerja sama antara pemerintah, lembaga sosial, komunitas, dan masyarakat dalam mendorong berbagai program pemberdayaan.
“Banda Aceh dipilih sebagai lokasi kick-off Pasar 1001 Malam karena Banda Aceh dikenal sebagai Kota Kolaborasi, yang dapat juga bermakna kerja sama antara pemerintah, lembaga sosial, komunitas, dan masyarakat dibutuhkan dalam mendorong berbagai program pemberdayaan,” ucap Deputi Bidang Koordinasi Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat dan Pelindungan Pekerja Migran Kemenko PM, Leontinus Alpha Edison melalui keterangannya, Selasa (12/03/2026).
Pelaksanaan Pasar 1001 Malam juga memanfaatkan Lapangan Eks Hotel Aceh, sebuah aset yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal. Lokasi bersejarah yang menjadi tonggak awal industri penerbangan Indonesia tersebut kini dihidupkan kembali sebagai ruang aktivitas ekonomi masyarakat.
Aset tersebut dikelola oleh PT Alam Perkasa Ujong dan diharapkan dapat menjadi pusat kegiatan ekonomi rakyat yang mampu meningkatkan usaha masyarakat lokal.
Sebagaimana diketahui, program Pasar 1001 Malam juga merupakan bagian dari upaya memanfaatkan berbagai aset idle milik pemerintah, BUMN, maupun BUMD agar dapat memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
Leontinus mengingatkan bahwa berdasarkan PP Nomor 7 tahun 2021, pemerintah di tingkat pusat dan daerah wajib mengalokasikan sedikitnya tiga puluh persen dari area komersial atau infrastruktur publik untuk promosi dan pengembangan UMKM.
Untuk itu, melalui program Pasar 1001 Malam, pemerintah ingin memberikan kesempatan yang lebih luas bagi pelaku usaha kecil yang selama ini belum memiliki akses pasar, belum dikenal luas, maupun belum memiliki platform digital untuk memasarkan produknya.
“Kita ingin memberi ruang kepada UMKM yang belum punya akses, belum punya platform, dan belum dikenal agar mereka mendapatkan kesempatan yang sama untuk berkembang,” ucap Leontinus.
Pasar 1001 Malam tidak hanya menjadi ruang aktivitas ekonomi, tetapi juga menghadirkan berbagai kegiatan sosial dan keagamaan, terutama dalam momentum bulan Ramadan. Selain transaksi ekonomi, kegiatan ini juga diisi dengan kajian Ramadan, penampilan dai cilik, serta kolaborasi dengan lembaga filantropi untuk menyalurkan berbagai bantuan sosial kepada masyarakat.
Dimulainya Pasar 1001 Malam di Banda Aceh dapat menjadi titik awal pengembangan jaringan para UMKM yang nantinya dapat diperluas ke berbagai daerah di Indonesia.




