
SUARAINDONESIA.ORG – PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) menyesuaikan operasional layanan penyeberangan dengan mengalihkan sementara lintasan Bajoe–Kolaka ke rute Siwa–Kolaka pada periode 1 April hingga 1 Juni 2026. Kebijakan ini dilakukan seiring perbaikan movable bridge di Dermaga 1 Pelabuhan Bajoe guna meningkatkan keandalan infrastruktur serta keselamatan kapal saat proses sandar.
Direktur Utama ASDP, Heru Widodo, menegaskan langkah ini merupakan bagian dari komitmen perusahaan menjaga standar keselamatan sekaligus memastikan layanan tetap berjalan optimal. “Perbaikan ini penting agar infrastruktur pelabuhan tetap prima. Kami memastikan mobilitas masyarakat dan distribusi logistik tetap berjalan melalui penyesuaian operasional yang terukur,” ujarnya.
Pengalihan lintasan tersebut merujuk pada ketentuan Direktorat Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan. Selama masa perbaikan, tarif perjalanan pada lintasan Siwa–Kolaka tetap sama seperti Bajoe–Kolaka sehingga pengguna jasa tidak mengalami perubahan biaya.
Untuk kategori penumpang, tarif ekonomi dewasa sebesar Rp102.000 dan anak-anak Rp9.600. Sementara tarif kendaraan bervariasi, mulai dari Golongan I Rp130.410, Golongan II Rp255.300, Golongan III Rp496.590, hingga Golongan IV penumpang Rp1.792.525 dan Golongan IV barang Rp1.742.605. Untuk kendaraan yang lebih besar, tarif Golongan V penumpang sebesar Rp3.329.680 dan Golongan V barang Rp2.954.200. Selanjutnya Golongan VI penumpang Rp5.646.305 dan Golongan VI barang Rp4.706.545. Adapun Golongan VII dikenakan Rp5.720.045, Golongan VIII Rp8.052.905, dan Golongan IX Rp11.914.405. Tarif tersebut belum termasuk biaya asuransi dan pas masuk pelabuhan.
Untuk menjaga kelancaran layanan, sejumlah armada disiapkan melayani rute Siwa–Kolaka, antara lain KMP Mishima, KMP Masagena, KMP Kota Bumi, KMP Permata NST, KMP Raja Dilaut, dan KMP Fais.
General Manager ASDP Cabang Bajoe Anom Sedayu menambahkan, pihaknya juga berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan pemangku kepentingan terkait. Salah satu kebijakan yang diterapkan adalah pembatasan berat kendaraan maksimal 30 ton demi menjaga keselamatan operasional.
Sepanjang Januari 2025 hingga Februari 2026, Pelabuhan Bajoe tercatat melayani lebih dari 28 ribu penumpang dan sekitar 56 ribu kendaraan. Data tersebut menunjukkan peran strategis pelabuhan ini dalam memperkuat konektivitas dan arus logistik antarwilayah di Sulawesi.




