
SUARAINDONESIA.ORG – Sepanjang tahun 2025, PT PLN (Persero) Unit Induk Transmisi Jawa Bagian Tengah (UIT JBT) berhasil menekan angka SAIDI (Durasi Padam) dan SAIFI (Jumlah Gangguan) melalui optimalisasi pemeliharaan prediktif serta korektif berbasis Healthy Index. Keberhasilan ini didorong oleh mitigasi risiko bencana yang terukur, termasuk kesiapsiagaan tim tanggap darurat yang mampu mempercepat penanganan gangguan di area transmisi sehingga durasi padam berkurang secara signifikan.
Sebagai upaya menetapkan standar benchmark nasional, UIT JBT secara konsisten mempublikasikan data performa teknisnya secara transparan untuk dibandingkan dengan target nasional PLN. Kemudian, mendokumentasikan inovasi dan praktik terbaik dalam manajemen gangguan menjadi referensi strategis bagi unit lain guna meningkatkan keandalan system kelistrikan di seluruh Indonesia.
Dengan adanya data Healthy Index yang terdigitalisasi, UIT JBT dapat meningkatkan Prediksi Gangguan, mengidentifikasi potensi masalah pada aset sebelum terjadi kerusakan serius (predictive maintenance) dapat mencegah gangguan besar. Mempercepat Respons, data mengenai kondisi aset memungkinkan tim pemeliharaan untuk merespons lebih cepat dan tepat sasaran saat terjadi anomali atau gangguan. Mengoptimalkan Perencanaan Pemeliharaan, dengan mengetahui kondisi asset secara real-time, jadwal pemeliharaan dapat diatur secara lebih efisien, mengurangi waktu henti yang tidak terencana.
“Meskipun tidak secara eksplisit menyebutkan implementasi drone inspection, thermal imaging, atau predictive maintenance berbasis data, penggunaan Healthy Index SUTT ULTG, menunjukkan adanya sistem monitoring dan analisis data. Indeks ini mengukur kondisi lingkungan, fondasi, vertikalitas, leveling tower, back to back, struktur, serta kondisi IL 1 CUI dan Line Walker,” kata Handy Wihartady, General Manager PLN UIT JBT kepada Suara Indonesia.
Berdasarkan Healthy Index SUTT ULTG itu, prioritas utama UIT JBT untuk memper- cepat penggantian aset kritis dan memastikan kesiapan jaringan 150 kV dan 500 kV adalah identifikasi dan pemantauan rutin aset transmisi, termasuk tower, fondasi, dan struktur.
Aset yang kondisinya tergolong poor atau very poor dan sering mengalami kondisi darurat (emergency) menjadi target utama untuk program penggantian. Proses ini memastikan fokus sumber daya tertuju pada elemen jaringan yang paling membutuhkan intervensi segera untuk menjaga stabilitas dan keandalan sistem transmisi.
Selain itu, UIT JBT memprioritaskan mitigasi bencana dan cuaca ekstrem dengan mengidentifikasi wilayah dan koridor transmisi yang rentan berdasarkan Indeks Bahaya Banjir dan Indeks Risiko Tanah Longsor, serta Peringatan Dini Cuaca untuk Jawa Barat dan Jawa Tengah. Jalur transmisi yang memiliki risiko tinggi terhadap banjir dan longsor, seperti TRS 500 kV PEDAN-KESUGIHAN dengan 205 tower berisiko banjir tinggi, menjadi focus utama. Langkah-langkah mitigasi konkret seperti persiapan pompa air dan pembangunan sumur resapan di gardu induk sangat krusial untuk melindungi infrastruktur vital dari dampak bencana alam.

“Strategi ini didukung oleh program pemeliharaan dan investasi yang terfokus. Alokasi anggaran untuk penggantian dan perbaikan aset harus diprioritaskan pada area yang teridentifikasi paling rentan dan kritis. Hal ini mencakup peningkatan kapasitas dan modernisasi peralatan di gardu induk yang berisiko mengalami banjir,” tuturnya.
Strategi utama untuk mengelola stabilitas frekuensi dan tegangan dengan peningkatan integrasi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) skala besar memerlukan beberapa langkah, yaitu: Sistem Supervisory Control and Data Acquisition/Energy Management System (SCADA/EMS) yang canggih.
Sistem ini penting untuk pemantauan dan kontrol real-time terhadap aliran daya, frekuensi, dan tegangan jaringan. Pembangkit Fleksibel, penggunaan unit pembangkit yang mampu memberikan respons cepat terhadap perubahan pasokan PLTS, seperti Pembangkit Listrik Tenaga Gas Uap (PLTGU) atau Pembangkit Listrik Tenaga Mesin Gas (PLTMG), untuk menjaga stabilitas sistem.
Sistem Penyimpanan Energi (Battery Energy Storage Systems/BESS), implementasi BESS memungkinkan penyimpanan kelebihan energi surya dan pelepasan energi saat terjadi penurunan produksi, yang secara efektif membantu menstabilkan grid.

Peningkatan Kemampuan Prediksi Cuaca, akurasi prediksi cuaca sangat penting untuk memprediksi output PLTS secara andal dan mengelola volatilitas pasokan. Regulasi dan Pasar Fleksibilitas, pengembangan kerangka regulasi dan mekanisme pasar yang mendorong penyediaan fleksibilitas oleh beragam partisipan dalam sistem energi.
General Manager UIT JBT mengungkapkan bahwa jaringan interkoneksi listrik Jawa-Bali menghadapi tantangan signifikan terutama karena kompleksitas jaringan yang luas, mencakup jalur 500 kV dan 150 kV yang rentan terhadap gangguan eksternal seperti cuaca ekstrem dan bencana alam.
Selain itu, ketergantungan silang antar wilayah menyebabkan potensi efek domino yang dapat meluas akibat gangguan tunggal, menuntut kualitas daya yang sangat ketat untuk menjaga stabilitas pasokan di kedua pulau tersebut. Untuk memperkuat cadangan system dan mengatasi kerentanan ini, strategi utama mencakup penerapan redundansi jaringan melalui pembangunan jalur transmisi cadangan dan peningkatan kapasitas jalur eksisting.
Penguatan ini didukung oleh peningkatan kapasitas gardu induk dan kerja sama erat antar unit transmisi dan operator sistem. Strategi operasional kunci lainnya adalah penyediaan cadangan berputar (spinning reserve) dari pembangkit serta implementasi sistem monitoring canggih seperti Wide Area Monitoring System (WAMS) untuk deteksi dini dan respons instan terhadap fluktuasi atau gangguan sistem.
UIT JBT menerapkan lima inisiatif utama untuk memperkuat jaringan transmisi dan memenuhi tuntutan beban industry serta pusat data yang semakin kompleks:
Pertama, Peningkatan Keandalan Aset. Fokus pada pemeliharaan preventif dan penggantian aset tua berdasarkan Healthy Index di koridor yang melayani Kawasan industri dan pusat data.
Kedua, Studi Kelayakan dan Perencanaan Jaringan. Melakukan studi mendalam untuk memproyeksikan pertumbuhan beban sektor manufaktur dan pusat data, serta merencanakan penambahan kapasitas transmisi (jalur/Gardu Induk baru atau peningkatan yang sudah ada).
Ketiga, Peningkatan Kualitas Daya. Mengimplementasikan perangkat FACTS (Flexible AC Transmission Systems) seperti STATCOM atau SVC di titik-titik krusial untuk menjaga stabilitas tegangan dan memperbaiki kualitas daya bagi industri dengan kebutuhan ketat.
Keempat, Redundansi Pasokan. Memastikan setiap pusat data atau industri vital dilayani minimal oleh dua jalur transmisi independen guna meminimalkan risiko pemadaman.
Kelima, Kolaborasi dengan Pelanggan. Bekerja sama dengan pelanggan industry untuk memahami kebutuhan kualitas daya mereka dan memberikan solusi teknis yang sesuai.
Adapun strategi penguatan Business Continuity Plan (BCP) dan Emergency Response untuk Gangguan Besar di Wilayah Padat Industri atau Kota Utama Jawa Tengah–Barat adalah: prioritisasi aset kritis, optimalisasi tim tanggap darurat, sinergi lintas sektoral, material strategis, integrasi sistem peringatan dini, dan mobilisasi pembangkit darurat.

Sementara pendekatan UIT JBT untuk mengurangi gangguan Right of Way (ROW) adalah strategi komprehensif berbasis sosial-lingkungan yang mencakup edukasi dan sosialisasi bahaya ROW; Patroli dan monitoring intensif dengan teknologi; Penanaman tanaman ramah ROW; Pemberdayaan masyarakat jadi agen pengawas, dan Koordinasi kuat dengan Pemda untuk penegakan aturan dan tata ruang.
PLN UIT JBT menguatkan peran sentralnya dalam transisi energi nasional di 2026 ini, berfokus pada penyiapan jaringan transmisi yang kokoh untuk mengintegrasikan PLTS dan PLTB skala besar. Upaya ini mencakup penguatan kapasitas jaringan di lokasi EBT strategis, studi kelayakan, dan penerapan teknologi canggih seperti FACTS dan sistem penyimpanan energi guna mengakomodasi sifat intermiten EBT.
“Aspek keberlanjutan atau pengembangan infrastruktur hijau menjadi pertimbangan fundamental dalam setiap proyek pembangunan dan pemeliharaan transmisi di PLN UIT JBT,” pungkasnya. (SI)




