
SUARAINDONESIA.ORG – Setelah lebih dari 24 tahun mengarungi industri asuransi, Kameswara Natakusumah dipercaya untuk menduduki jabatan Kepala Untuk Indonesia di Willis Towers Watson (WTW), sebuah perusahaan global yang dikenal kuat dalam pengelolaan risk management, data analytics, dan strategi keuangan korporasi.
Di tangan Kameswara, WTW diharapkan bisa memperkokoh posisi dan kapabilitasnya di pasar Indonesia, serta yang tidak kalah penting mampu menjadi mitra strategis bagi banyak korporasi besar yang menavigasi risiko di tengah ketidakpastian global.
Karier pria yang akrab disapa Kames itu mulai diarunginya sejak tahun 1997, berawal di Asuransi Sinarmas, tempat dirinya di tempa lewat dasar-dasar industry dari para tokoh legendaris seperti Korelo Simanjuntak dan almarhum Budi Purnomo. Setelah itu, ia menapaki berbagai posisi penting di Aon Indonesia, Jardine Lloyd Thompson, dan AXA General Insurance, hingga membawanya ke posisi puncak di WTW.
Tapi yang membuatnya gemilang bukan hanya rekam jejaknya, melainkan cara pandangnya terhadap profesi yang dia cintai. “Integrity is the heart of what you do, dan yang tidak kalah penting jangan tergoda untuk cepat kaya, karena rezeki tidak akan tertukar, ” katanya tegas kepada Suara Indonesia.

Watson Indonesia
Dalam pandangannya, industri asuransi Indonesia tidak bisa dibenahi secara parsial, karena ini bukan sekadar masalah pelaku industri. “Ekosistemnya harus berbenah. Mulai dari korporasi, agen, broker, loss adjuster, hingga regulator. Semua punya peran dalam membangun industri yang sehat dan dipercaya,” katanya lagi.
Terkait itu Kames juga menambahkan dengan analogi yang khas, membenahi industri asuransi itu seperti membenahi Indonesia, tidak gampang, tapi selalu mungkin. Sebagai pemimpin di WTW, Kames membawa semangat baru, terutama melalui data, yakni driven insurance practice. Baginya, asuransi bukan lagi sekadar menjual polis, tetapi soal memahami risiko dengan akurat dan ilmiah. “Di Willis, kami tidak hanya jualan asuransi. Kami menganalisis risiko dengan pendekatan kuantitatif. Kami punya tools untuk memetakan risiko gempa, banjir, hingga serangan siber secara presisi. Jadi, Keputusan klien tidak berdasar insting, tapi berdasar data.”
Pendekatan ini yang membedakan WTW dari banyak broker lain. Saat Sebagian masih mengandalkan perbandingan harga atau tren pasar, WTW membangun kekuatannya pada risk quantification. “Kalau klien tanya kenapa beli pertanggungan senilai itu, kami punya dasar matematisnya. Kami bisa tunjukkan benchmark, eksposur, hingga loss limit yang sesuai dengan profil risiko mereka,” jelasnya.
Namun, di balik profesionalisme dan pendekatan analitik yang dingin, Kames tetap menekankan nilai kemanusiaan. People do business with whom they know, and especially with whom they like, katanya.
Di bisnis ini, hubungan adalah segalanya. Semunya harus mengenal, memahami, dan menyukai partner nya, karena kepercayaan merupakan mata uang utama industri asuransi.”
Kames juga berpesan penting bagi para pelaku asuransi muda di Indonesia. Dirinya menekankan pentingnya continuous learning dan kepemimpinan yang tegas namun tidak keras. Jangan pernah berhenti belajar, dan jangan merasa paling pintar. Kalau memimpin, jangan garang, tapi tegas dan konsisten. Karena yang kita kelola bukan hanya risiko, tapi juga kepercayaan publik.




