Kamis, Maret 5, 2026
spot_img

Berawal dari Tangga Kampung: Kisah Gigih Ibu Marni Merintis dan Berkembang Bersama PNM Mekaar Syariah

Ibu Marni, nasabah PNM Mekaar Syariah. (Dok PNM)

SUARAINDONESIA.ORG – Usaha dimulai dari modal seadanya, mengandalkan gorengan, jelly-jelly, serta es susu sebagai produk jualan. Harganya bervariasi mulai dari seribuan. Tidak ada gerobak mewah, hanya bermodalkan tas atau tampah yang dijinjing. Bagi Ibu Marni, yang terpenting adalah gorengan bisa laku terjual dan ada pemasukan harian untuk mencukupi kebutuhan keluarga, meskipun harus memikul lelah mengelilingi pemukiman.

“Awalnya ngider-ngider (keliling), menjajakan dagangan dari satu tangga kampung adanya, mengandalkan gorengan, jelly-jelly, serta es susu sebagai produk jualan. Harganya bervariasi mulai dari seribuan. Tidak ada gerobak mewah, hanya bermodalkan tas atau tampah yang dijinjing. Bagi Ibu Marni, yang terpenting adalah gorengan bisa laku terjual dan ada pemasukan harian untuk mencukupi kebutuhan keluarga, meskipun harus memikul lelah mengelilingi pemukiman.

“Awalnya ngider-ngider (keliling), menjajakan dagangan dari satu tangga kampung Berawal dari Tangga Kampung: Kisah Gigih Ibu Marni Merintis dan Berkembang Bersama PNM Mekaar Syariah Jauh sebelum mengenal PNM Mekaar Syariah (program pemberdayaan ekonomi berbasis kelompok dari PT Permodalan Nasional Madani atau PNM), hari-hari Ibu Marni diisi dengan bergelut di dapur sederhana dan berjalan mengelilingi kampung menjajakan dagangannya.

Ibu Marni, nasabah PNM Mekaar Syariah. (Dok PNM) 14 ke tangga kampung lainnya,” ujar Ibu Marni kepada Suara Indonesia, mengenang masa masa perjuangannya. Perjuangan “ngider” ini menjadi fondasi awal Ibu Marni, mengajarkan arti ketekunan sebelum akhirnya usaha kecilnya mulai berkembang lebih baik.

Situasi ekonomi memaksa ia mencari jalan keluar, hingga ajakan tetangga mengenalkannya pada PNM Mekaar Syariah. Tahun 2018 menjadi titik balik. Dengan platform awal sebesar 2 juta rupiah, ia memulai usahanya.

“Sebelum kenal PNM, suami saya tidak bekerja. Saya bingung mau usaha apa? Modal awal dari PNM itu kita putarin,” ungkapnya. Meski sudah punya modal, perjuangan tidaklah mudah. Konsisten menjalankan usahanya selama dua tahun hingga usahanya mulai berkembang.

Kini, buah kerja kerasnya terlihat. Usaha yang dahulu hanya jualan keliling, kini bertransformasi menjadi warung tetap. Warung tersebut terbangun berkat dukungan Mekaar Home, program pembiayaan dari PNM khusus untuk membantu perbaikan rumah sekaligus membuka ruang usaha yang lebih layak bagi nasabah Mekaar.

“Ini juga tadinya bukan warung kayak begini, cuma di depan. Ntar dibuka, ntar dimasukin ke dalam,” tuturnya dengan bangga. Berkat modal dan pendampingan PNM, Ibu Marni berhasil mengubah kondisi ekonominya, dari keraguan menjadi keberdayaan. Bagi Ibu Marni, berdagang bukan sekadar menghitung untung, melainkan tentang ketahanan. Lika-liku usahanya adalah rangkaian kisah jatuh-bangun yang nyata.

“Jatuh-bangun, kadang tidak laku, kadang karena hujan, tidak ada pembeli tapi saya tidak berhenti,” ujarnya menggambarkan perjuangan harian yang serba tidak pasti.

Bagi Ibu Marni, menyerah bukanlah pilihan ketika perut kedua buah hatinya harus tetap terisi. Itulah prinsip yang dipegang teguh oleh Ibu Marni. Dengan satu anak yang duduk di kelas 3 SD dan si bungsu yang baru menginjak usia lima tahun, ia sadar beban di pundaknya bukanlah hal yang ringan. “Kalau saya tidak bekerja, siapa yang akan membiayai sekolah dan kebutuhan anak-anak? Sebab saat itu, suami belum mendapatkan pekerjaan,” ungkapnya.

Meski kini suaminya telah bekerja, semangat kewirausahaannya tidak padam. Baginya, usaha ini bukan lagi sekadar mencari nafkah, melainkan bentuk dedikasi dan kemandirian untuk memastikan masa depan kedua anaknya tetap cerah.

Sejak tahun 2018 itu, PNM konsisten mendukung usaha Ibu Marni. Kenaikan plafon modal yang terukur, dari awal 2 dan menjadi 3 juta dirasa sangat membantu menambah stok dan mengembangkan usahanya. Berkat program PNM Mekaar Syariah, modal usaha Ibu Marni kini tumbuh, angsurannya pun sangat terjangkau, membuat ia lebih tenang membangun usaha dari rumah. Bagi Ibu Marni, PNM Mekaar bukan sekadar memberikan modal, melainkan sahabat perjuangan yang menyalakan kembali semangat usaha. Pendampingan yang dilakukan Account Officer (AO) PNM

benar-benar menyentuh sisi personal, melampaui sekadar urusan administratif. AO PNM rutin memberikan masukan positif dan semangat. Kalimat seperti, “Ayo, jualan lagi, jangan menyerah,” menjadi suntikan motivasi yang membuat usaha Ibu Marni tetap bertahan bahkan berkembang. Bahkan Kepala Unit rutin mendatangi usaha Ibu Marni, setidaknya sebulan sekali. Mereka tidak hanya menagih, tetapi mengecek perkembangan, melihat langsung perubahan usaha, dan memastikan usaha berjalan lancar.

PNM Mekaar konsisten menaikkan modal usaha secara bertahap. Usaha Ibu yang awalnya bermodal Rp2 juta, naik menjadi Rp2,5 juta, Rp3 juta, hingga kini mencapai Rp8 juta. Peningkatan modal ini berbanding lurus dengan peningkatan pendapatan, dari yang awalnya hanya Rp100 ribu per hari, kini bisa mencapai Rp300 ribu.

“Alhamdulillah, suami dan anak-anak sangat mendukung. Saat saya sibuk melayani pembeli, anak-anak dengan sigap membantu menjaga warung,” ungkapnya. Perubahannya juga dirasakan drastis. Dulu rumah yang ditempatinya Adalah milik orang tua, sekarang sudah menjadi rumah sendiri berkat hasil jualan.

Perjalanan membangun rumahnya juga bukanlah hal instan. Ia mengisahkan bahwa setiap sudut rumah yang kini berdiri tegak adalah buah dari kedisiplinan mengumpulkan keuntungan usaha.

“Sedikit demi sedikit kami renovasi. Untuk membangun, kami tidak mengandalkan modal pokok, tapi focus memaksimalkan keuntungan jualan yang kami tabung. Alhamdulillah, dari modal PNM, usaha lancar, rumah impian terwujud,” tambahnya.

Ia mengajak para perempuan lain untuk tidak mudah menyerah pada keadaan. “Jangan takut panas-panasan, takut capek. Kita bantuin suami,” tuturnya.

Kisah Ibu Marni itu hanyalah satu dari sekian banyak potret istri yang bangkit membantu perekonomian rumah tangga. Mereka adalah pejuang yang tidak menyerah pada keadaan. “Semoga PNM semakin maju, lancar usahanya, dan sukses selalu mendukung usaha kami. Buat PNM, tetaplah hadir membantu langkah kecil kami, jangan pernah menghilang,” harapnya dengan tulus.

Seperti diketahui, PT Permodalan Nasional Madani (PNM) menyalurkan pembiayaan usaha ultra mikro melalui program Mekaar. Lebih dari sekadar modal, Mekaar menjadi instrumen pemberdayaan perempuan prasejahtera melalui pendampingan dan pembinaan usaha. Mekaar Syariah memperkuat fondasi ekonomi keluarga dengan prinsip keadilan dan nilai syariah. (SI)

NEWSNasionalBerawal dari Tangga Kampung: Kisah Gigih Ibu Marni Merintis dan Berkembang Bersama...
- Advertisement -spot_img

TERKINI

- Advertisement -spot_img