Jumat, Februari 6, 2026
spot_img

PLN Genjot Transisi Energi

Suasana agenda CEO Talk bertajuk “Corporate Climate Leadership for Indonesia’s Net Zero Action through High Integrity Carbon” yang digelar pada senin (10/11) di Belém, Brazil. Dok PLN

SUARAINDONESIA.ORG – PT PLN (Persero) kembali menegaskan ambisinya memimpin percepatan transisi energi berkeadilan di Indonesia. Dalam forum COP30 di Belem, Brazil, Senin (10/11), PLN tampil dalam sesi CEO Talk “Corporate Climate Leadership for Indonesia’s Net Zero Action through High Integrity Carbon”, memaparkan langkah konkret menuju sistem kelistrikan rendah emisi.

Direktur Teknologi, Engineering dan Keberlanjutan PLN, Evy Haryadi, menyampaikan bahwa Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034 kini jauh lebih hijau. Kapasitas energi terbarukan yang akan dibangun melonjak drastis, dari 21 gigawatt (GW) pada RUPTL sebelumnya menjadi 52,9 GW termasuk teknologi penyimpanan energi.

Menurutnya, peningkatan ini berjalan bersamaan dengan upaya menurunkan emisi pada pembangkit yang sudah beroperasi melalui skema perdagangan emisi nasional. PLN juga mulai mengembangkan mekanisme pembiayaan karbon sebagai sumber pendanaan baru untuk mempercepat investasi hijau.

“Langkah ini diharapkan menarik lebih banyak investasi dan mempercepat terwujudnya sistem kelistrikan rendah emisi,” ujar Evy.

PLN juga memperkuat pengembangan Smart Grid, sistem jaringan cerdas yang memungkinkan energi terbarukan seperti surya dan angin masuk lebih besar tanpa mengganggu keandalan listrik. Strategi ini menjadi bagian dari pendekatan Complementing Renewable Expansion, yaitu memastikan pertumbuhan energi bersih berjalan seiring dengan kesiapan infrastruktur pendukung.

Evy menjelaskan bahwa strategi tersebut mencakup pembangunan pembangkit fleksibel berbasis gas dan hidro, peningkatan kapasitas penyimpanan energi, dan pembangunan jaringan transmisi hijau antarwilayah. Pendekatan ini membuka peluang integrasi energi hijau hingga lebih dari 75 persen dalam satu dekade ke depan.

PLN juga melihat potensi ekonomi besar dari ekspansi energi bersih. Dengan peningkatan kapasitas EBT, PLN memperkirakan dapat menghasilkan hingga 250 juta ton sertifikat pengurangan emisi yang dapat menjadi nilai ekonomi hijau baru bagi Indonesia.

“Setiap ton emisi yang dikurangi harus memberikan nilai tambah bagi negara, investor, dan masyarakat,” tegasnya.

Selain dukungan regulasi, PLN menekankan pentingnya kolaborasi global. Pendanaan internasional, transfer teknologi, dan mekanisme pasar karbon berintegritas tinggi menjadi fondasi agar transisi energi berjalan inklusif, terjangkau, dan berkeadilan.

Melalui strategi yang semakin agresif dan terukur, PLN berupaya memastikan transformasi energi Indonesia tidak hanya lebih bersih, tetapi juga mampu menggerakkan ekonomi hijau nasional.

EKONOMIEnergiPLN Genjot Transisi Energi
- Advertisement -spot_img

TERKINI

- Advertisement -spot_img