Sabtu, Maret 14, 2026
spot_img

Hadapi Tren Stagnasi, GAPKI Genjot Produktivitas Sawit

Ilustrasi pabrik kelapa sawit. (Istimewa)

SUARAINDONESIA.ORG,. – Industri kelapa sawit nasional diprediksi masih akan menunjukkan prospek cerah di tahun 2025. Hal ini ditegaskan oleh Sekretaris Jenderal (Sekjen) Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) M. Hadi Sugeng Wahyudiono. Pria yang dikenal ramah tersebut menyatakan, kebutuhan dalam negeri terhadap produk sawit akan terus meningkat seiring dengan pertumbuhan sektor pangan, industri oleokimia (senyawa kimia yang berasal dari lemak dan minyak alami), dan terutama program pemerintah dalam implementasi biodiesel B40.

Namun, Hadi juga menyoroti bahwa di balik potensi pertumbuhan, terdapat tantangan besar pada sisi produksi dan produktivitas. “Kita menghadapi tren stagnasi bahkan penurunan produktivitas dalam lima tahun terakhir, yang disebabkan oleh dominasi tanaman tua, terutama di kebun rakyat. Ini menjadi pekerjaan rumah besar,” ujarnya kepada Suara Indonesia.

Untuk mengatasi tantangan tersebut, GAPKI sudah menyusun strategi komprehensif, baik jangka pendek maupun jangka panjang. Dalam tataran jangka pendek, GAPKI menggenjot optimalisasi pengelolaan kebun melalui penerapan Good Agricultural Practices (GAP) dan Good Management Practices (GMP). Selain itu, GAPKI juga mendorong percepatan program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) dengan menggunakan varietas unggul.

Sementara dalam jangka panjang, GAPKI mendukung upaya pengembangan produktivitas melalui pengenalan serangga penyerbuk baru serta sumber daya genetis (SDG) kelapa sawit dari negara asalnya seperti Tanzania dan Nigeria. “Serangga penyerbuk yang lebih efisien dapat meningkatkan fruit set, sedangkan SDG baru memberi peluang pengembangan varietas yang lebih produktif dan adaptif,” jelas Hadi.

Di sisi lain, dalam menghadapi persaingan ketat dengan negara produsen lain, GAPKI juga aktif mengadvokasi dan berkomunikasi dengan pemerintah terkait berbagai kebijakan ekspor. Ini termasuk usulan peninjauan ulang terhadap beban biaya seperti pungutan ekspor (PE), bea keluar (BK), serta kewajiban pasar domestik (DMO).

“Kami juga aktif dalam kampanye positif bahwa sawit Indonesia adalah produk berkelanjutan dan ramah lingkungan. Ini penting untuk mempertahankan pasar tradisional seperti India, Pakistan, dan Uni Eropa, sekaligus membuka pasar baru di Afrika dan Timur Tengah,” lanjutnya.

Kata Hadi, ekspor sawit Indonesia mengalami pergeseran signifikan menuju produk hilir. Saat ini, kurang dari 10% ekspor dalam bentuk bahan baku mentah CPO. Sebagian besar telah menjadi produk turunan seperti RBD PO, RBD PKO, oleokimia, dan biodiesel. Namun, tantangan berikutnya adalah meningkatkan hilirisasi ke produk jadi seperti makanan olahan, kosmetik, hingga sabun.

Menjaga Keseimbangan
Namun demikian, kebijakan penerapan B40 mulai awal 2025, diakui Hadi, menjadi angin segar sekaligus tantangan baru. GAPKI mendukung kebijakan ini, tetapi mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan antara kebutuhan domestik dan ekspor. Jika bauran energi terus meningkat ke B50, B60 bahkan B100, pemerintah diminta mempertimbangkan
pembukaan dedicated area di lahan terdegradasi sebagai sumber bahan baku khusus energi. “Keseimbangan antara pasokan dan permintaan sangat penting agar industri sawit tetap memberikan nilai tambah baik dari sisi energi maupun devisa,” tegas Hadi.

GAPKI juga menyoroti pentingnya menciptakan iklim investasi yang kondusif. Hadi menyebut perlunya sinkronisasi dan harmonisasi antar kementerian terkait sejumlah regulasi krusial, seperti kewajiban pembangunan kebun masyarakat (FPKM 20%), perizinan
pendirian pabrik CPO, hingga penyelesaian konflik perkebunan sawit dalam kawasan hutan. “UU Cipta Kerja dan Perpres No. 5 Tahun 2025 sudah menjadi dasar. Kami harap implementasinya bisa menyelesaikan masalah secara permanen dan memberikan kepastian
hukum,” jelasnya. Ketidakjelasan regulasi ini tidak hanya menghambat investasi, tapi juga menimbulkan potensi konflik sosial di tingkat akar rumput.

Di tengah beragamnya gempuran tantangan tadi, GAPKI tetap optimis industri sawit Indonesia terus menjadi pilar utama perekonomian nasional. Selain sebagai penyumbang devisa terbesar, industri ini menyerap tenaga kerja sebanyak 16-17 juta orang dan menjadi penopang utama program swasembada pangan dan energi.

Meski dihadapkan pada tekanan global seperti kampanye hitam dan regulasi EUDR (European Union Deforestation Regulation), GAPKI percaya bahwa melalui kerja sama semua pihak, industri ini tetap bisa tumbuh secara berkelanjutan. “Kami ingin sawit menjadi kebanggaan nasional, berdaya saing global, dan menjadi kekuatan menuju Indonesia Emas 2045,” pungkas Hadi. (Jay)

NEWSNasionalHadapi Tren Stagnasi, GAPKI Genjot Produktivitas Sawit
- Advertisement -spot_img

TERKINI

- Advertisement -spot_img